*

*

Ads

Senin, 30 April 2012

Pendekar Bodoh Jilid 025

◄◄◄◄ Kembali ◄◄◄◄

“Ah, tidak, tidak sekali-kali, Ma-ciangkun! Aku yang muda bahkan merasa teramat kagum melihat sifat kesatriaanmu. Yang kuanggap lucu adalah keanehanmu. Kau begini gagah perkasa dan berjiwa satria, akan tetapi mengapa kau sudi menjadi anggauta Sayap Garuda yang terkenal ganas menindas rakyat? Biarlah, hal itu bukan urusan kami dan aku pun tidak akan mengutik-utik. Akan tetapi pemandanganmu tadi keliru sekali! Ujar-ujar kuno menyatakan bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan pula, akan tetapi kejahatan harus dibalas dengan keadilan! Hai Kong Hosiang dan Boan Sip adalah orang-orang yang telah melakukan keganasan dan kekejaman yang termasuk kejahatan besar. Kalau kau memberi tahu tempat mereka kepada kami, itu berarti bahwa kau telah melakukan sesuatu yang adil. Ingatlah bahwa permusuhan ini tiada sangkut pautnya dengan kedudukanmu atau kedudukan mereka sebagai anggauta Sayap Garuda, akan tetapi adalah urusan pribadi. Lagi pula mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian, maka apa perlunya mereka bersembunyi daripada kami? Kalau kau menolak untuk memberitahukan tempat tinggal mereka, itu berarti bahwa kau bahkan merendahkan mereka dan berarti kau takut kalau-kalau mereka itu akan kalah dan terbunuh oleh kami!”

Ma Keng In mendengarkan ucapan panjang lebar ini dengan mata terbelalak dan ia makin heran melihat pemuda yang tidak saja berkepandaian lihai itu, akan tetapi juga mempunyai pemandangan yang demikian dalam dan halus. Ia menghela napas dan berkata,

“Alasan-alasanmu dapat diterima, anak muda. Memang Hai Kong Suhu adalah seorang yang tinggi hati dan kalau ia tahu bahwa aku menolak untuk memberi keterangan kepadamu tentang kepergiannya, tentu ia akan merasa kurang senang dan menganggap aku merendahkannya. Baiklah kalau kau dan kawanmu memaksa, akan tetapi kalau kalian tewas dan celaka di dalam tangannya janganlah kalian merasa penasaran kepadaku. Hai Kong Suhu dan Boan-ciangkun sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Kaisar untuk menghubungi pasukan-pasukan Mongol di perbatasan utara. Lima hari yang lalu mereka dan beberapa orang perwira lain telah berangkat ke utara meninggalkan kota raja.” Cin Hai menjura dan berkata,

“Terima kasih banyak, Ma-ciangkun. Kau memang benar-benar seorang tua gagah dan berhati lurus. Mudah-mudahan bertemu kembali dalam keadaan yang lebih menyenangkan.”

Kwee An juga menghaturkan terima kasih dan keduanya lalu melompat ke atas genteng untuk meninggalkan kota raja yang sebetulnya tidak aman bagi mereka itu. Akan tetapi, belum jauh mereka pergi, tiba-tiba terdengar suara orang menegur dari belakang. Mereka berhenti dan ternyata Ma Hoa, pemuda berbaju biru yang menegur mereka tadi, telah mengejar mereka!

“Eh, eh, kau mengejar mau apa? Apakah hendak melanjutkan pertandingan yang tadi?” Kwee An menegur tidak senang.

“Kalau hendak melanjutkan pertandingan, tak perlu aku banyak cakap!” jawab pemuda itu ketus. “Ayah terlalu lemah, maka kalau kalian memang orang-orang gagah, di dalam tiga hari aku akan menanti kalian di lereng Pai-san di sebelah utara!” Kwee An merasa mendongkol dan penasaran.

“Mengapa kami tidak berani? Baiklah, kalau kami menuju ke utara kami akan mampir di tempat itu dan di sana kita boleh bertempur sampai seribu jurus! Siapa takut dengan seorang kanak-kanak seperti kau?” Pemuda itu membanting-banting kaki dan berkata,

“Aku akan menunggu di sana!” Kemudian ia lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan mereka.

“Ah, Saudara An, mengapa kau mencari musuh baru? Orang itu kulihat lihai sekali, ilmu kepandaiannya tidak kalah jika dibandingkan dengan Ayahnya.” Cin Hai menegur dengan suara menyesal.

“Siapa takut dia?” jawab Kwee An yang merasa mendongkol dan penasaran sekali karena tadi ia benar-benar tidak dapat mengalahkan pemuda itu. Setelah pemuda itu menentangnya apakah ia harus mundur? “Dan lagi kita hendak melewati Pai-san. Kalau kita tidak menyambut tantangannya, bukankah kita akan diterwakan oleh seorang kanak-kanak?”

Cin Hai tersenyum dan maklum bahwa Kwee An merasa penasaran sekali karena tidak dapat mengalahkan seorang pemuda yang sikapnya masih seperti kanak-kanak itu! Setelah melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya di jalan kepada penduduk dusun tentang rombongan Hai Kong Hosiang, tiga hari kemudian Cin Hai dan Kwee An tiba di lereng bukit Pai-san. Pemandangan di lereng bukit ini sungguh indah dan tanah di situ subur. Hal ini adalah karena di lereng itu mengalir sebuah sungai yang menjadi sumber atau mata air Sungai Liong-kiang dan yang menjadi anak sungai atau cabang Sungai Huangho, karena sungai Liong-kiang ini akhirnya memuntahkan airnya di Sungai Kuning yang besar itu.

Ketika Cin Hai dan Kwee An sedang berdiri termangu-mangu sambil memandang ke arah air sungai yang mengalir sambil memperdengarkan dendang riak air yang menyedapkan telinga, tiba-tiba dari jauh terlihat sebuah perahu kecil yang bergerak maju melawan arus air. Setelah dekat, ternyata yang duduk di dalam perahu itu adalah pemuda baju biru putera Ma Keng In dan seorang tua berpakaian nelayan yang bertubuh kurus bagaikan tengkorak hidup dan berwajah gembira. Biarpun melawan arus air, akan tetapi dengan dayungnya pemuda itu dapat menggerakkan perahu dengan lajunya, hingga dapat dibayangkan betapa kuat tenaganya. Tiba-tiba terdengar nelayan tua itu berdendang, suaranya yang parau itu diiringi bunyi riak air.

“Di belakang pintu gerbang merah indah cemerlang anggur dan daging berlebih-lebihan hingga masam membusuk! Di luar pintu gerbang kotor sunyi melengang berserakan tulang rangka sisa korban dingin dan lapar!!”

Cin Hai terkesiap. Ia mengenal syair yang diucapkan dalam lagu ini. Ini adalah syair yang ditulis oleh pujangga Tu Fu. Pada jaman dulu keadaan rakyat di bawah pemerintahan Raja Hsuan Tsung sangat menderita dan pada suatu hari ketika lewat di Pegunungan Lisan, Pujangga itu melihat betapa Raja Hsuan Tsung bersenang-senang dan berpelesir dengan para selir di istananya yang disebut istana Hua Cin. Oleh karena merasa betapa janggalnya perbedaan ini, yaitu antara kehidupan raja yang tahunya hanya bersenang-senang belaka tidak mempedulikan keadaan rakyatnya yang sengsara dan banyak yang mati kelaparan dan kedinginan, maka jiwa patriot yang menggelora di hati pujangga Tu Fu menggerakkan tangannya untuk membuat syair itu.

Syair ini semenjak dulu dilarang oleh semua kaisar yang memerintah karena dianggap sangat menghina kaisar, dan bersifat memberontak, maka jarang ada orang mengenalnya lagi, apalagi menyanyikannya, karena apabila terdengar oleh kaki tangan kaisar, tak ampun lagi orang itu dapat ditangkap sebagai pemberontak dan dijatuhi hukuman keras. Akan tetapi nelayan tua yang duduk di dalam perahu itu bahkan berani menyanyikannya dengan lagu suara yang bersemangat sekali. Orang yang berani bernyanyi seperti itu di tempat terbuka, tahulah seorang yang luar biasa dan berilmu tinggi.

“Bagus sekali syair itu, seakan-akan kulihat Tu Fu menjelma kembali.”

Dengan suara keras Cin Hai memuji. Ketika itu perahu kecil tadi telah tiba di depan mereka dan nelayan itu lalu memandang ke arah Cin Hai. Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan tahu-tahu tubuh yang seperti tengkorak itu telah melayang berdiri di depan Cin Hai.

“Hi-hi, anak muda, kau kenal Tu Fu?” tanyanya.

“Kenal? Dia sahabat baikku di alam mimpi!” jawab Cin Hai yang lalu mengucapkan sebuah syair lain dari Tu Fu dengan suara nyaring. “Mungkinkah membangun sebuah gedung dengan laksaan kamar untuk memberi tempat bagi para fakir miskin di seluruh dunia yang akan merasa bahagia biarpun dalam hujan karena gedung kokoh kuat bagaikan bukit raksasa? Kalau saja aku dapat melihat ini tiba-tiba muncul di depan mataku, biarlah gubukku ini hancur lebur, biarlah aku mati kedinginan, aku akan mati dengan mata meram dan jiwa tenteram!”

Nelayan itu melebarkan matanya dan memandang kepada Cin Hai dengan wajah gembira sekali. Tiba-tiba dari kedua matanya yang lebar itu mengalir air mata dan ia lalu memeluk leher Cin Hai dan menangis tersedu-sedu sambil menyandarkan kepalanya di pundak pemuda itu. Kepala nelayan tua itu mengeluarkan bau amis seperti bau ikan, dan ketika ia memeluk Cin Hai kedua tangannya merangkul. Cin Hai merasa seakan-akan ia ditindih oleh sebuah batu besar yang beratnya ribuan kati. Ia merasa terkejut sekali dan tahu bahwa diam-diam kakek nelayan ini telah mencoba tenaganya. Maka ia lalu menahan napas dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan tekanan yang hebat ini. Ia hampir tidak kuat, akan tetapi berkat keteguhan hatinya, ia tidak mengeluh atau memperlihatkan kelemahannya.

Akhirnya kakek nelayan itu melepaskan pelukannya dan Cin Hai merasa lega sekali. Keringat dingin telah keluar dari kulit mukanya dan ia menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut peluh itu. Kakek nelayan itu setelah memandang tubuh Cin Hai dari kepala sampai kaki dengan mata berseri dan wajah gembira, lalu berpaling kepada pemuda baju biru yang sementara itu telah keluar dari perahu dan menghampiri mereka.

“Eh, anak nakal, pemuda inikah yang kau maksudkan? Ah, Hoa-ji, kau akan kalah! Kau tentu kalah!” Pemuda yang bernama Ma Hoa itu menggeleng kepalanya dan menuding ke arah Kwee An,

“Bukan dia, Suhu, yang inilah!”

Kwee An dan Cin Hai memandang ke arah pemuda itu. Mereka tercengang, karena setelah melihat pemuda itu di siang hari, ternyata bahwa pemuda ini benar-benar berwajah tampan sekali dan sikapnya pendiam dan agung! Ma Hoa lalu melangkah rnenghadapi Kwee An dan berkata,

“Hem, ternyata kau mematuhi janji. Nah, mau tunggu apa lagi? Cabutlah senjatamu dan coba kau perlihatkan kepandaianmu!”

Sambil berkata demikian, Ma Hoa lalu melolos pedangnya dari pinggang dan bersiap sedia. Kwee An berdiri bingung karena ia merasa jerih juga menghadapi pemuda yang bersikap agung dan tenang ini. Ia berpaling kepada Cin Hai, akan tetapi Cin Hai sedang saling pandang dengan nelayan tua itu sambil tersenyum-senyum, sedangkan kakek nelayan itu lalu memegang tangan Cin Hai, ditarik untuk bersama duduk di bawah sebatang pohon dan dengan tertawa haha-hihi ia berkata,

“Mari, mari, sahabatku, kita duduk di sini dan menonton kedua anak nakal itu!”

Cin Hai maklum bahwa kakek nelayan luar biasa ini tak bermaksud jahat, maka ia tidak menguatirkan keselamatan Kwee An dan ia lalu ikut duduk di sebelah kakek itu. Ma Hoa ketika melihat Kwee An berdiri bengong, lalu membentak,

“Tidak lekas mengeluarkan senjatamu? Apakah kau takut?”

Marahlah Kwee An melihat kecongkakan pemuda itu, maka dengan muka merah ia mencabut senjatanya dan berkata,

“Tenang, kawan. Siapa yang takut kepada engkau?”

Ma Hoa lalu menyerang dengan hebat dan tanpa sungkan-sungkan lagi Kwee An dengan cepat menangkis dan membalas menyerang. Sebentar saja keduanya bertempur seru sekali, saling mengerahkan tenaga dan kepandaian, saling melepas umpan, membuat gerak tipu dan mengeluarkan segala jurus yang saling berbahaya. Cin Hai duduk dengan bengong karena kagum. Ia tak hanya mengagumi kepandaian kedua anak muda ini, akan tetapi ia mengagumi kenyataan bahwa kepandaian kedua orang itu boleh dibilang sama tinggi dan sama pandai. Dan yang lebih mengherankannya lagi, Ma Hoa biarpun sikapnya congkak sekali, akan tetapi di dalam pertempuran itu agaknya tidak mengandung hati ingin mencelakakan Kwee An. Ini dapat dilihatnya dari gerakan pemuda itu yang selalu terlambat sedikit dari pada seharusnya dalam mengirim serangan maut!

Kwee An tak pantas disebut murid Kim-san-pai yang lihai kalau ia tidak mengetahui hal ini. Mula-mula ia merasa heran dan menganggap bahwa lawannya memang masih belum matang betul kepandaiannya, akan tetapi karena berkali-kali Ma Hoa memperlambat gerakannya, ia menjadi maklum dan hatinya girang sekali. Ternyata pemuda ini mencoba kepandaiannya saja. Oleh karena itu, ia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang paling hebat dan memutar pedangnya sedemikian rupa hingga sinar pedangnya bergulung-gulung, akan tetapi ia pun menjaga-jaga jangan sampai melukai pemuda lawannya itu. Sungguh suatu pertempuran yang hebat dan indah dipandang.

Bukan main girang hati Cin Hai melihat keadaan itu, karena ia maklum bahwa keduanya tidak mempunyai keinginan mencelakakan lawan. Tadinya ia telah merasa khawatir kalau-kalau harus bermusuhan dengan nelayan tua yang hebat ini, karena kalau ia dan Kwee An sampai menjadi musuh nelayan ini, itu berarti bahwa mereka telah menanam bibit permusuhan yang berbahaya. Laginya, ia merasa suka sekali kepada kakek nelayan yang bersemangat ini. Kegirangan hatinya dan keadaan tamasya alam yang indah di situ telah membuat hatinya bahagia sekali dan tak terasa pula ia mengeluarkan suling bambunya.

Kakek nelayan itu memandangnya dengan senang sekali hingga Cin Hai lalu mulai menyuling, sambil matanya memandang kepada dua orang muda yang masih bermain pedang. Cin Hai memang pandai sekali menyuling. Ketika suara lengking sulingnya melagukan sebuah lagu peperangan kuno yang bersemangat, maka Kwee An dan Ma Hoa tak terasa pula terpengaruh oleh nyanyian ini dan mereka bermain pedang makin hebat dan indah, seakan-akan dua orang penari yang mendengar suara gamelan merdu yang membuat tarian mereka lebih indah. Kakek nelayan itu menatap wajah Cin Hai dan aneh sekali. Kembali dari kedua matanya yang lebar mengalir keluar air mata. Ternyata hati kakek nelayan ini perasa sekali hingga membuat ia terkenal sebagai seorang yang cengeng atau mudah menangis. Oleh karena inilah, maka ia mendapat sebutan Nelayan Cengeng!

►►►►Lanjut ke jilid 026►►►►

◄◄◄◄ Kembali ◄◄◄◄

Tidak ada komentar:

Posting Komentar