*

*

Ads

Rabu, 02 Mei 2012

Pendekar Bodoh Jilid 035

◄◄◄◄ Kembali ◄◄◄◄

“Nelayan Cengeng!” tak terasa lagi Cin Hai berseru.

Nelayan yang bercerita itu menjadi kaget karena menyangka bahwa dialah yang dimaki cengeng tetapi sebelum ia sempat bertanya, Cin Hai sudah mendesaknya lagi.

“Teruskanlah, teruskanlah!”

“Penumpang-penumpang kami orang Turki yang aneh dan perwira yang galak itu menjadi marah dan melompat ke darat, sedangkan gadis cantik yang ditawan itu pun tak tersangka-sangka lihai juga dan dapat melompat ke darat! Kami berdua tak dapat melompat sejauh itu maka kami lalu menceburkan diri ke dalam air dan berenang ke tepi. Ternyata di tepi itu terjadi pertempuran hebat! Orang Turki bertempur melawan nelayan tua yang memegang dayung dan yang telah memecahkan perahu kami, sedangkan Si Perwira dikeroyok oleh gadis tawanannya dan seorang pemuda tampan kawan nelayan tua itu.”

“Ma Hoa!” kata Ang I Niocu dan kembali nelayan itu memandang heran karena tidak tahu maksud Dara Baju Merah yang berseru karena amat tertarik mendengar penuturan ini.

“Dan bagaimana hasil pertempuran itu?” Cin Hai mendesak dengan tak sabar, karena ia telah merasa pasti bahwa yang mengeroyok perwira itu tentu Lin Lin dan Ma Hoa dan yang bertempur melawan orang Turki tentu Si Nelayan Cengeng.

“Kesudahannya mengerikan sekali...” nelayan yang pandai bercerita itu sengaja berhenti sebentar untuk membikin pendengar-pendengarnya makin bernafsu dan ceritanya makin menarik, “perwira yang galak dan gagah itu tewas. Kepalanya remuk dipukul oleh dayung yang dipegang gadis tawanannya, sedangkan dadanya bolong-bolong tertembus pedang Si Pemuda tampan!” Baik Cin Hai maupun Ang I Niocu menghela napas lega.

“Mampuslah si keparat!” seru Cin Hai dengan gembira, kemudian ia menegaskan, “Bukankah perwira itu masih muda, kira-kira tiga puluh tahun, dan bibirnya tebal?” Nelayan itu memandangnya heran,

“Betul sekali, apakah Kongcu kenal padanya?” Akan tetapi Cin Hai tidak menjawab pertanyaan ini, hanya bertanya lagi,

“Dan bagaimana hasil pertempuran orang Turki melawan nelayan tua itu?”

“Mereka bertempur secara luar biasa sekali hingga kami berdua tidak dapat melihat siapa menang siapa kalah. Tiba-tiba mereka berhenti bertempur dan agaknya lalu mengikat persahabatan. Si Nelayan Tua itu benar-benar setan air! Ia menyelam ke dalam air dan berhasil mencari dan mengambil perahu yang telah tenggelam itu. Bukan main! Selama hidupku belum pernah aku melihat orang dapat melakukan hal semacam itu. Tentu ia iblis air sungai itu!”

“Hush! Jangan membuka mulut sembarangan saja. Sekali lagi kau memaki dia, kutampar mulutmu!” kata Cin Hai sambil mendelikkan matanya hingga nelayan itu terkejut dan takut. “Teruskan ceritamu, bagaimana selanjutnya dengan mereka itu?”

“Selanjutnya? Tidak ada apa-apa lagi. Mereka berempat setelah memperbaiki perahu lalu berangkat pergi dan kami ditinggalkan dengan perahu kecil ini dan hadiah uang!”

“Jadi perahu kecil ini adalah perahu kepunyaan nelayan tua itu?” tanya Cin Hai dengan girang. Kedua nelayan itu menjadi pucat karena mereka telah kelepasan omong.

“Kalau begitu kami hendak memakai perahu ini,” kata Ang I Niocu yang merogoh keluar dua potong uang perak dari sakunya. “Nih, kalian ambil seorang satu! Perahu ini kami ambil!”

Melihat bahwa perahu itu hanya diganti dengan dua potong uang perak, kedua nelayan itu menjadi bingung,

“Eh, Siocia, eh... Toanio, nanti dulu, perahu... perahu kami ini harganya lebih dari lima potong uang perak!” Ang I Niocu mengangkat tangan mengancam.

“Perahu ini bukan perahu kalian! Memberi dua potong perak sudah terlalu banyak untukmu dan itu pun bukan untuk membeli perahu ini, akan tetapi sebagai upah kalian bercerita tadi!”

Cin Hai dan Ang I Niocu lalu melompat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu ke tengah sungai. Kedua nelayan itu tidak berani berbuat sesuatu, hanya melihat perahu itu pergi makin jauh dengan hati memaki-maki kalang kabut, akan tetapi mulut tidak berani bersuara!

Dua hari kemudian ketika perahu melalui sebuah hutan, Ang I Niocu melihat pohon-pohon buah lenci di dekat pantai. Melihat buah yang bergantungan dan sudah masak itu, timbul seleranya dan ia mengusulkan untuk berhenti dan beristirahat sebentar sambil mencari dan makan buah. Cin Hai setuju, oleh karena ia pun merasa ingin makan buah yang segar nampaknya itu. Mereka lalu mendayung perahu ke pinggir dan menarik perahu kecil itu ke darat. Kemudian, oleh karena melihat tempat itu sunyi dan indah sekali, timbul kegembiraan mereka dan keduanya lalu melompat ke atas cabang pohon dan memilih buah sesuka hati mereka.

Akan tetapi tiba-tiba Cin Hai berseru kaget dan cepat melompat turun dan ketika Ang I Niocu memandang ke arah perahu mereka, ia pun terkejut sekali. Seorang tosu (pendeta penganut Agama Tao) sedang menarik perahu mereka ke arah air, dan agaknya ia hendak mempergunakan kesempatan itu untuk mencuri perahu mereka!

Ang I Niocu menjadi marah sekali dan ia pun cepat melompat turun dari atas pohon. Ketika Cin Hai dan Ang I Niocu berlari ke arah perahu mereka, tiba-tiba dari balik batang pohon besar melompat keluar seorang hwesio (pendeta penganut Agama Buddha) yang bertubuh pendek tapi gemuk sekali. Hwesio ini kelihatan lucu sekali, mukanya seperti muka anak kecil yang gemuk, dan jika dilihat, ia persis seperti boneka besar atau Jilaihud yang berwajah baik dan peramah. Mukanya yang bulat itu selalu tersenyum ramah, tubuhnya bagian atas yang serba bulat dan gemuk hanya menutup kedua pundak dan lengannya saja, sedangkan tubuh atas bagian depan terbuka sama sekali! Dadanya yang bergajih dan pusarnya yang besar kelihatan menambah kelucuannya. Ia menghadang Cin Hai dan Ang I Niocu sambil tertawa dan berkata,

“Ai, ai, kalian sepasang burung dara yang bahagia! Mengapa melayang turun dari pohon dan berlari-lari. Bukankah lebih senang bermain-main di atas pohon?” Bukan main marahnya Cin Hai mendengar ini, sedangkan Ang I Niocu dengan muka merah lalu membentak,

“Bangsat gundul kurang ajar! Tutup mulutmu dan minggirlah!” Akan tetapi hwesio tadi memandang heran dan tertawa lagi,

“Eh, eh, mengapa marah-marah? Apakah aku mengganggu kalian?”

“Hwesio gemuk, jangan kau menghadang di depan kami!” kata Cin Hai yang lebih sabar, “Kami akan mengejar pencuri perahu itu!” Si Hwesio tertawa terus dan berkata,

“Pencuri perahu? Kau maksudkan tosu itu? Ah, dia adalah saudaraku! Kami hanya ingin pinjam sebentar perahumu itu!”

“Bagus, hwesio maling!” kata Ang I Niocu yang segera melompat maju dan mengayun kepalan tangan menghantam dada hwesio yang gemuk itu.

Akan tetapi Ang I Niocu terkejut sekali karena tidak menyangka bahwa hwesio segemuk ini dapat bergerak gesit sekali ketika ia mengelak dari pukulan Ang I Niocu.

“Waduh, ganas... ganas...!” seru hwesio gendut itu yang masih saja tertawa-tawa sungguhpun Ang I Niocu menyerang bertubi-tubi dengan pukulan cepat hingga ia harus mengelak ke sana ke mari dengan repot sekali.

Sementara itu, tosu yang hendak mencuri perahu tadi, ketika melihat betapa saudaranya diserang oleh Ang I Niocu dan terdesak sekali, segera menarik kembali perahu itu ke darat dan berlari-lari ke arah tempat pertempuran.

“Jangan kau memukul Adikku!” teriaknya dan segera menyerang Ang I Niocu.

Melihat serangan ini hebat juga datangnya, Cin Hai lalu maju menangkis dan keduanya lalu bertempur ramai! Keadaan tosu ini sama sekali berbeda dengan hwesio itu. Kalau hwesio itu gemuk dan pendek bermuka ramah dan mulutnya selalu tersenyum, adalah Si Tosu ini mukanya seperti orang mewek dan menangis, matanya yang sipit itu seakan-akan memandang dengan sedih hingga membikin sedih pula kepada orang yang melihatnya.

Ang I Niocu biarpun sedang marah, akan tetapi melihat betapa hwesio itu biarpun terdesak sekali masih saja tertawa-tawa dengan muka sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, menjadi tidak tega hati untuk melukainya, dan hanya mendesak dengan ilmu silat yang baru dipelajarinya dari Bu Pun Su, yaitu ilmu Silat Kong-ciak-sin-na hingga hwesio itu tak dapat membalas menyerang dan dipermainkan oleh Ang I Niocu bagaikan seekor kucing. Ang I Niocu memang sengaja menggunakan hwesio itu sebagai ujian bagi ilmu silatnya yang baru dan ia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang dipelajarinya dari Bu Pun Su ini memang betul-betul luar biasa. Sebaliknya dengan mudah Cin Hai pun dapat mendesak Si Tosu. Kemudian, sebelah kakinya berhasil menggaet kaki tosu itu yang segera jatuh terguling-guling dan mengeluh kesakitan.

“Nah, biar kau kapok mendapat hajaran sedikit!” kata Cin Hai. “Dan agar lain kali tidak berani mencoba untuk mencuri perahu lain orang.”

Si Tosu itu dengan muka seperti orang menangis menoleh ke arah hwesio yang masih diserang kalang-kabut oleh Ang I Niocu. Ia mengeluh lagi dan berseru.

“Ceng Tek, sudahlah baik kita menyerah. Mereka ini bukan makanan kita!” Mendengar kata-kata ini, hwesio gemuk itu lalu melompat mundur dan berkata sambil tertawa,

“Sudahlah Nona, pinceng mengaku kalah!” Ang I Niocu menjadi geli hatinya dan ia pun tidak tega untuk menyerbu terus.

“Kalian dua orang tua ini siapakah dan mengapa hendak mencuri perahu kami?” tanyanya. Kedua pendeta itu saling pandang dan sambil menjura, tosu itu berkata.

“Kami dua kakak beradik adalah pendeta-pendeta perantau. Adikku ini bernama Ceng Tek Hwesio dan pinto sendiri bernama Ceng To Tosu. Tadinya kami kira bahwa kalian berdua adalah sepasang orang muda yang hendak berpelesir di sini, maka kami berani mengganggu dan hendak meminjam perahu kalian. Tidak tahunya, melihat pakaian dan kepandaian Nona ini, kami tidak akan heran apabila kau mengaku wanita yang berjuluk Ang I Niocu!” Ang I Niocu tersenyum.

“Memang dugaanmu tepat sekali, Totiang. Aku adalah Ang I Niocu dan saudaraku ini adalah Pendekar Bodoh!” Kedua mata Ceng To Tosu yang sipit itu dipentang lebar.

“Apa? Dengan kepandaiannya seperti itu, ia masih disebut Pendekar Bodoh? Ah, kalau yang bodoh saja kepandaiannya setinggi ini, apalagi yang pintar?”

Biarpun tosu ini mengucapkan kata-kata yang mengandung kelakar, namun tetap saja mukanya mewek seperti mau menangis! Dan hwesio pendek gemuk itu tetap tersenyum dengan muka sesenang-senangnya! Cin Hai tertarik sekali melihat dua saudara yang aneh ini, maka ia lalu bertanya.

“Harap kau dua orang suci suka berkata terus terang saja. Sebetulnya mau meminjam perahu kami hendak pergi ke manakah?” Kini hwesio gemuk itu yang menjawab dan ucapannya penuh kejujuran.

“Kami hendak pergi ke laut dan mencari sebuah pulau.”

“Pulau Emas?” Cin Hai cepat menyambung dan kedua pendeta itu tercengang.

“Kau... sudah tahu?”

“Tentu saja! Kami hendak pergi ke sana!”

“Aha! Sungguh kebetulan sekali. Sudahkah kalian dua anak muda tahu di mana letaknya Kim-san-to (Pulau Gunung Emas)?”

Terus terang saja Cin Hai menyatakan belum tahu. Kedua pendeta itu lalu saling pandang dan akhirnya Si Tosu berkata,

“Baiklah, sekarang diatur begini saja. Perahu ini cukup lebar untuk ditumpangi empat orang. Kami berdua membonceng kalian dan sekalian menjadi penunjuk jalan. Kalian mempunyai perahu akan tetapi tidak kenal jalan, sedangkan kami berdua yang kenal jalan tidak mempunyai perahu! Bukankah kita dapat saling menolong?”

Cin Hai dan Ang I Niocu kini saling berpandangan dan akhirnya Cin Hai mengangguk dan berkata,

“Kata-katamu ini pantas juga. Biarlah kita sama-sama mencari pulau itu dan kalian berdua menjadi petunjuk jalan!”

“Akan tetapi perahu kita kecil dan hwesio gemuk ini tentu berat sekali! Asal saja kau tidak banyak bergerak hingga jangan-jangan perahu kita akan terguling dan tenggelam!” kata Ang I Niocu sambil tertawa sehingga mereka berempat sama-sama tertawa gembira.

Cin Hai dan Ang I Niocu merasa suka kepada dua orang aneh itu dan mereka dapat menduga bahwa kedua orang ini tentulah orang-orang kang-ouw yang berwatak baik. Beberapa hari kemudian, keempat orang dalam perahu kecil itu telah sampai di samudera dan mulai dengan usaha mereka mencari Pulau Kim-san-tho. Atas petunjuk kedua pendeta itu, perahu didayung ke kiri dan melalui pantai yang curam dan batu-batu karang yang tinggi. Ketika perahu mereka bergerak perlahan di tepi batu karang yang tinggi dan hitam, tiba-tiba dari atas menyambar turun bayangan yang cepat sekali gerakannya! Bayangan ini menyambar ke arah dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang telanjang.

Kaget sekali empat orang di dalam perahu itu ketika melihat bahwa yang menyambar adalah seekor burung rajawali yang besar dan buas sekali! Agaknya burung ini tertarik oleh kegemukan dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang bergajih dan montok itu, hingga ia menyambar turun hendak mencengkeram daging gemuk itu! Ceng Tek Hwesio kaget dan hendak berkelit, akan tetapi berat badannya membuat perahu berguncang!

“Hai, jangan bergerak!” Ang I Niocu mencegah dan gadis ini dengan cepat lalu menendang ke arah burung yang menyambar turun itu dan alangkah kagetnya ketika burung itu dengan cepat dapat mengelak tendangannya dan melayang ke atas lagi!

Cin Hai yang berdiri di kepala perahu dan memandang tajam, juga ia merasa kagum melihat ketangkasan dan kecepatan burung yang besar itu. Sedangkan hwesio pendek gemuk itu, melihat bahwa dirinya diserang oleh burung rajawali, hanya tersenyum-senyum dan tertawa ha-ha-hi-hi saja, dan biarpun hatinya berdebar ngeri, akan tetapi mukanya tetap tersenyum. Sebaliknya, muka Ceng To Tosu makin nampak sedih dan mewek bagaikan benar-benar hendak menangis tersedu-sedu oleh karena ia merasa kuatir dan juga marah kepada burung pemakan manusia itu. Kini burung rajawali menyambar turun dari atas dengan cepatnya. Ang I Niocu yang merasa mendongkol melihat tendangannya tadi dapat dikelit oleh burung besar itu, berkata kepada kawan-kawannya,

“Jangan bergerak dan biarkan aku bikin mampus burung celaka itu!”

Ketika burung itu mengulur cakarnya dan kembali hendak menyerang hwesio gendut itu, Ang I Niocu cepat menghantam dengan tangan kanannya sekerasnya! Kembali ia tertegun oleh karena burung itu dapat miringkan tubuh dan mengibas dengan sayapnya seakan-akan menangkis pukulan Ang I Niocu! Akan tetapi pukulan itu bukanlah pukulan biasa dan dilakukan dengan tenaga lweekang hingga biarpun burung itu menangkis dengan sayap, namun tubuh burung itu terlempar jauh dan oleh karena sakitnya, tiba-tiba sambil memekik keras burung yang terlempar ke atas itu mengeluarkan kotoran yang jatuh menimpa berhamburan ke arah perahu bagaikan hujan. Kebetulan sekali kotoran itu jatuh tepat ke arah Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hosiang hingga muka dan baju kedua pendeta itu menjadi kotor kena kotoran burung itu.

Ang I Niocu makin gemas dan marah karena burung itu agaknya tidak terluka dan hanya terpental dan kaget saja. Juga burung itu kini terbang berputaran di atas perahu sambil mengeluarkan suara nyaring. Ang I Niocu mencabut keluar pedangnya dan dengan muka merah karena gemas ia berkata,

“Burung keparat, turunlah kalau kau berani!”

Seakan-akan mengerti dan dapat mendengar tantangan gadis itu, burung rajawali yang berbulu kuning emas dan berparuh merah itu memekik panjang dan kembali menyerang turun dan kini bukan menyerang kepada hwesio gendut, akan tetapi langsung menyerang Ang I Niocu, oleh karena agaknya ia marah sekali kepada Dara Baju Merah yang telah dua kali menyerangnya itu. Burung ini adalah semacam Kim-tiauw atau Rajawali Emas yang jarang terdapat dan yang disebut raja segala burung.

Ketika ia menyerang Ang I Niocu, gerak tubuhnya cepat dan tak terduga oleh karena ia bukan menyerang langsung dari atas, akan tetapi turun sambil bergerak-gerak ke kanan kiri dengan cepatnya. Ang I Niocu bukanlah sembarangan gadis yang takut akan segala macam burung. Dengan seruan keras, sebelum burung itu menyambar, Ang I Niocu sudah mendahului melompat ke atas sambil menyambar dengan pedangnya. Burung Kim-tiauw itu kembali secara aneh dapat mengelak dan mumbul lagi ke atas, kemudian berkali-kali ia menyerang turun.

Terjadilah pertempuran yang hebat dan indah dipandang antara Ang I Niocu di atas perahu dan burung rajawali yang menyambar-nyambar dari atas. Beberapa kali pedang Ang I Niocu yang hampir dapat memenggal leher burung itu, tiba-tiba dapat disampok dengan sayap atau cakar dengan kuku burung itu, hingga Ang I Niocu menjadi makin marah dan penasaran saja.

Biarpun Ang I Niocu belum berhasil membunuh Kim-tiauw, akan tetapi banyak bulu burung itu telah rontok ketika sayapnya menyampok pedang, sedangkan burung itu sama sekali tidak mendapat kesempatan menyerang gadis perkasa itu. Sebenarnya kalau ia berada di atas tanah keras, tentu Ang I Niocu sudah berhasil membunuh Kim-tiauw itu, akan tetapi ia berada di atas perahu yang bergerak-gerak hingga membuat gerakannya tidak leluasa sekali. Setelah berkali-kali gagal serangannya, bahkan hampir saja pedang tajam menembus dadanya dan memenggal leher, akhirnya Kim-tiauw itu agaknya mengakui kelihaian Ang I Niocu dan sambil mengibaskan sayapnya yang lebar dan kuat dan mengeluarkan bunyi seperti orang mengeluh panjang, ia lalu terbang pergi dengan cepat sekali hingga sebentar saja tubuhnya hanya merupakan titik kuning emas di langit biru.

Ang I Niocu menyimpan kembali pedangnya dan duduk dengan muka merengut, hatinya tidak puas sekali karena kegagalannya membunuh burung besar itu, akan tetapi Ceng To Tosu lalu berkata sambil menghela napas panjang,

“Baiknya kau tidak membunuhnya Lihiap.”

“Eh, mengapa, kau berkata baik sedangkan hatiku kecewa sekali karena tidak berhasil membunuhnya?” kata Ang I Niocu sambil memandang heran.

“Burung itu adalah burung Kim-sin-tiauw atau Rajawali Sakti Berbulu Emas, dan burung itu di daerah ini terkenal burung pembawa rezeki dan kebahagiaan. Kita telah bertemu dengan dia dan memusuhi kita, hal ini tidak baik sekali, apalagi kalau kau tadi sampai salah tangan dan membunuhnya!” Diam-diam Cin Hai terkejut sekali mendengar ini, akan tetapi Ang I Niocu berkata,

“Burung jahat itu mana bisa membawa kebahagiaan?”

Biarpun Cin Hai tidak setuju mendengar ucapan gadis ini akan tetapi oleh karena ia telah maklum bahwa gadis ini tidak takut apa pun juga, ia diam saja dan tidak menyatakan kekuatirannya, hanya berkata memuji,

“Kim-sin-tiauw itu lihai sekali dan gerakannya tangkas dan cepat.”

“Kalau di darat ada harimau menjadi raja dan di laut ada naga, maka di udara Kim-sin-tiauw boleh dibilang menjadi raja udara!” kata Ceng Tek Hwesio yang masih tersenyum-senyum seakan-akan kejadian tadi adalah hal yang menyenangkan hatinya!

“Dan raja udara itu hampir saja berpesta pora menikmati kelezatan dagingmu yang gemuk!” kata Cin Hai dan semua orang tertawa geli, kecuali Ceng To Tosu yang agaknya selama hidup tak pernah tertawa, dan ia hanya mengutarakan kegelian hatinya dengan mewek makin menyedihkan!

Kita tinggalkan dulu perahu kecil yang dinaiki empat orang yang sedang mencari Pulau Emas itu, pulau yang aneh dan mengandung rahasia dan yang pada waktu itu menjadikan sebab terjadinya hal-hal yang hebat oleh karena tiga bangsa sedang berusaha merampasnya!

Kerajaan Turki di waktu itu yang telah mendengar tentang adanya Pulau Emas di laut timur Negara Tiongkok telah mengirim dan menyebar para penyelidiknya, di antaranya Yousuf yang cerdik dan yang menjadi orang pertama mendapatkan pulau itu. Di samping menyebar mata-mata, Kerajaan Turki lalu mengirim sejumlah besar tentaranya untuk menyerbu ke daerah ini. Mereka tidak berani melalui daratan Tiongkok, oleh karena maklum bahwa apabila mereka melalui daratan pedalaman Tiongkok, mereka akan menghadapi rintangan-rintangan besar yang memungkinkan gagalnya usaha mereka, oleh karena Tiongkok selain mempunyai daerah luas yang berbahaya, juga memiliki banyak orang pandai yang tentu akan melawan tentara Turki yang menjelajah negaranya. Oleh karena ini, barisan Turki itu mengambil jalan memutar dari utara, bergerak ke timur melalui sepanjang perbatasan Negara Tiongkok dan masuk di daerah Mongol dan mereka ini pun tidak tinggal diam dan melawan barisan asing yang tanahnya.

Akan tetapi oleh karena pada waktu itu bangsa Mongol masih belum kuat dan hidupnya berkelompok-kelompok ini dapat dihalau oleh barisan Turki yang kuat. Barisan Turki ini dipimpin oleh orang-orang pandai, bahkan di dalam barisan terdapat seorang pemimpin aneh yang merupakan seorang pendeta bertubuh besar sekali bagaikan seorang raksasa akan tetapi agak pendek. Pendeta ini berkepala botak, berjenggot hitam dan kaku bagaikan kawat dan yang menyongot ke sana ke mari tidak terawat. Tubuhnya yang gemuk besar itu mengenakan pakaian yang aneh pula, oleh karena pakaian ini terbuat dari banyak macam kain kembang yang ditambal-tambal. Dilihat dari keadaan pakaiannya, pendeta ini lebih pantas disebut seorang pengemis jembel! Pendeta ini lihai dan sakti sekali dan ia menjadi jago nomor satu di seluruh Kerajaan Turki. Namanya di Turki terkenal sebagai Balutin, sedangkan pendeta yang telah seringkali merantau di pedalaman Tiongkok ini disebut dalam bahasa Tiongkok sebagai Pouw Lojin. Oleh karena sering masuk di daerah Tiongkok, maka Balutin pandai bicara dalam bahasa Tionghoa.

Dengan adanya pendeta ini, maka ekspedisi Turki ini tidak mengalami banyak rintangan, oleh karena setiap penghalang yang kuat selalu hancur apabila berhadapan dengan Balutin yang lihai. Selain ilmu silatnya yang tinggi, Balutin juga mahir dalam ilmu sihir, dan lweekang serta khikangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Oleh karena adanya gerakan tentara Turki inilah yang membuat bangsa Mongol gelisah sekali. Mereka ini merasa pun akhirnya dapat juga mencari tahu akan rahasia Kerajaan Turki dan dapat mengetahui bahwa bangsa Turki ini hendak mencari sebuah Pulau Emas di Laut Tiongkok. Maka, bangsa Mongol lalu menguasakan kepada Pangeran Vayami yang cerdik dan untuk menghubungi Kaisar Tiongkok. Ini pulalah sebabnya maka Hai Kong Hosiang diutus oleh kaisar untuk mengundang Pangeran Vayami datang ke istana kaisar.

Setelah Vayami bertemu dengan kaisar secara cerdik sekali Vayami lalu menghasut dan memberi tahu bahwa tentara Turki bermaksud mengurung ibu kota Tiongkok dan merampas sebuah pulau di Laut Tiongkok yang mengandung banyak emas! Secara cerdik sekali Pangeran Vayami menghasut dan hendak mengadu dombakan tentara Turki dan tentara Tiongkok, sedangkan diam-diam pangeran yang cerdik dan licin ini telah mempersiapkan kaki tangannya untuk secara mendadak menyerbu pulau itu. Ia mengambil siasat “Membiarkan Dua Ekor Anjing Berebut Tulang” dan kemudian diam-diam membawa tulang itu berlari sementara kedua anjing itu masih bergumul!

Akan tetapi, Kaisar Tiongkok pun bukan seorang bodoh, dan seandainya ia sendiri bodoh, namun para penasehatnya adalah orang-orang cendekiawan yang berpemandangan luas. Oleh karena ini biarpun kaisar telah masuk dalam perangkapnya dan mengirimkan barisan besar yang dikepalai oleh Beng Kong Hosiang dan beberapa orang perwira tertinggi kepandaiannya bahkan kepala bayangkari, seorang perwira kekasih kaisar yang amat tinggi kepandaiannya dan bernama Lui Siok In, mendapat tugas khusus untuk memimpin barisan itu bersama-sama Beng Kong Hosiang dan lain-lain perwira, bergerak menuju ke pantai laut di sebelah utara dekat tapal batas Tiongkok, di mana menurut keterangan Pangeran Vayami tentara Turki itu berkumpul.

Sementara itu, kaisar memerintahkan Hai Kong Hosiang untuk tetap menemani Pangeran Vayami dengan alasan melindungi keselamatan tamu agung itu dalam perjalanannya kembali ke negerinya, sedangkan sebetulnya kaisar ini bukan hendak menjaga keselamatan orang, akan tetapi bahkan ingin mengawasi dan mengikuti gerak-geriknya, dan membatasi usaha-usaha kecurangan yang mungkin hendak dilakukan oleh Pangeran Vayami yang cerdik. Oleh karena ini, Hai Kong Hosiang mendapat tugas istimewa dan hwesio ini pun lalu mengajak supeknya, yaitu Kiam Ki Sianjin yang telah pikun dan gagu, akan tetapi masih lihai sekali itu.

Pangeran Vayami lalu keluar dari istana bersama Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin, dan pangeran ini langsung menuju ke utara pula dan memberi tahukan kepada Hai Kong Hosiang tentang adanya Pulau Emas itu. Hai Kong Hosiang walaupun seorang pendeta, namun hatinya tertarik dan ingin sekali mendapatkan gunung emas itu, maka ia pun lalu menyetujui ajakan Pangeran Vayami untuk menyaksikan pulau itu dari dekat dan kalau mungkin mendarat di pulau itu. Hal ini menurut Hai Kong Hosiang tidak ada salahnya, oleh karena tugasnya yang didapat dari kaisar hanya mengawasi dan menjaga agar pangeran ini jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan, pendeknya kaisar mencurigai Pangeran Vayami dan Hai Kong Hosiang bertugas mengawasinya.

Ketika tentara Turki yang dipimpin dan dilindungi oleh Balutin itu tiba di tepi pantai laut, mereka berhenti dan memasang kemah. Sementara itu, bagian perlengkapan lalu sibuk membuat perahu-perahu untuk keperluan menyeberang. Biarpun mereka telah lebih dulu menyediakan segala keperluan untuk membuat perahu-perahu ini, akan tetapi oleh karena jumlah tentara yang hendak diseberangkan ini tidak kurang dari seribu orang, maka pembuatan perahu itu makan waktu berhari-hari. Dan pada waktu mereka sedang sibuk membuat persiapan menyeberang, datanglah tentara Kerajaan Tiongkok yang dipimpin oleh Lui Siok In, Beng Kong Hosiang dan perwira-perwira lain!

Tentara Tiogkok lebih banyak jumlahnya dan karena mereka datang di waktu hari telah menjadi gelap, maka tentara Tiongkok di bawah pimpinan Lui Siok In yang pandai, lalu diam-diam mengurung perkemahan tentara Turki. Kemudian, serentak tentara Tiongkok, yang sudah mengurung ini memasang obor hingga keadaan menjadi terang sekali bagaikan siang hari!

Tentu saja, ketika tiba-tiba melihat ribuan obor menyala mengelilingi tempat mereka, tentara Turki menjadi panik. Akan tetapi, Balutin dengan senyumnya yang selalu menghias mukanya yang bulat dan gemuk, berhasil menyuruh anak buahnya berlaku tenang. Mereka diperintahkan untuk memasang dan memegang obor pula, kemudian ia lalu berdiri di depan barisannya menanti kedatangan musuh. Lui Siok In dengan tindakan gagah, pedang di pinggang dan sayap garuda menghias topinya, tanda bahwa ia adalah seorang perwira Sayap Garuda tingkat tertinggi, diikuti oleh perwira-perwira lain dan Beng Kong Hosiang, maju menghampiri Balutin dan berkata dengan suara lantang,

“Hai, tentara Turki! Kalian telah melanggar wilayah kami dan karena sekarang kamu telah dikurung dan tak berdaya, maka lebih baik kamu menyerah saja agar menjadi orang-orang tawanan yang akan kami perlakukan dengan baik-baik!”

Di bawah penerangan obor di sekeliling mereka yang dipegang oleh tentara kedua belah fihak, Balutin kelihatan seperti seorang raksasa pendek. Pendeta Turki ini lalu melangkah maju dan sambil tertawa ia menuding ke arah Lui Siok In dan berkata,

“Hai, Perwira muda! Siapakah yang menjadi pemimpin besar barisanmu ini? Suruhlah dia sendiri maju, dan jangan majukan segala perwira hijau untuk bicara dengan aku!”

Mendengar dirinya disebut “perwira hijau” oleh pengemis jembel yang gemuk sekali ini, tentu saja Lui Siok In menjadi marah.

“Bangsat jembel, siapakah kamu?” Balutin tertawa bergelak sambil memegangi perutnya.

“Kau mau tahu aku siapa? Akulah pemimpin besar barisan Turki! Akulah Balutin atau boleh juga kau sebut Pouw Lojin! Anak muda, panggillah keluar pemimpin besarmu agar dapat bicara dengan aku!”

Lui Siok In terkejut mendengar bahwa yang berdiri di depannya seperti seorang pengemis jembel ini adalah Balutin sendiri, tokoh yang amat terkenal semenjak tentara Turki menyerbu melalui Mongol. Nama Balutin ini pernah disebut-sebut oleh kaisar sendiri ketika memberi perintah kepadanya untuk memimpin barisan, oleh karena kaisar pun telah mendengar dari Pangeran Vayami yang sangat memuji-muji Balutin sebagai orang gagah dan pemimpin besar. Lui Siok In tidak sudi memperlihatkan kelemahan dan kejerihannya, maka sambil tertawa ia berkata,

“Aha, tidak tahunya pemimpin besar tentara Turki yang bernama Balutin dan yang disohorkan sangat gagah perkasa itu hanyalah seorang pengemis jembel yang terlantar. Ha-ha-ha! Ketahuilah, Jembel gemuk, akulah pemimpin barisan ini dan namaku Lui Siok In. Lebih baik kau menyerah saja agar kau dapat diberi makan enak dan tak usah mampus di ujung senjata!”

Balutin memandang heran dan hampir tak percaya bahwa panglima besar tentara Tiongkok hanyalah seorang perwira muda ini. Ia lalu berkata menghina,

“Agaknya Tiongkok sudah kehabisan orang gagah, maka terpaksa memajukan kau sebagai panglima. Mari, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu!'

Sambil berkata demikian, Balutin menengok ke arah pohon yang tumbuh di dekat situ. Daun-daun pohon itu bergantungan di atasnya dan ia lalu menggerakkan kedua tangannya menampar ke arah daun-daun pohon itu. Angin besar keluar dari kedua lengannya yang dipenuhi tenaga khikang itu dan beberapa helai dauh pohon itu lalu rontok dan melayang ke bawah! Balutin masih menggerak-gerakkan kedua tangannya dan daun-daun pohon yang melayang ke bawah itu bergerak-gerak di udara dan tak dapat melayang turun, seakan-akan tertahan oleh tiupan dari bawah dan kini bermain-main di udara bagaikan hidup!

Lui Siok In terkejut sekali dan ia mengerti bahwa Balutin sedang mempergunakan kepandaian khikang yang disebut Mempermainkan Daun Rontok! Ia maklum bahwa daun-daun ini biarpun ringan, akan tetapi dapat digerakkan dengan tenaga khikang dan dapat dipakai menyerang lawan bagaikan senjata-senjata rahasia hebat! Di Tiongkok juga terdapat ilmu ini yang dipelajari sambil menggunakan tenaga khikang dan angin gerakan tangan dapat diarahkan kepada daun-daun itu hingga daun-daun itu dapat digerakkan ke mana saja menurut kehendak orang.

Benar saja sebagaimana dugaan Lui Siok In. Tiba-tiba Balutin lalu membuat gerakan dengan kedua telapak tangannya dan daun-daun itu dari atas lalu menyambar turun hendak menyerang tubuh Lui Siok In. Perwira muda ini bukan orang sembarangan dan ia juga memiliki kepandaian tinggi. Kalau ia tidak lihai, mana ia bisa diterima menjadi kepala pengawal pribadi kaisar. Ia lalu berseru keras dan membuat gerakan dengan jari-jari tangannya pula yang ditelentangkan. Dari kedua telapak tangannya ini keluarlah tenaga khikang yang hebat pula dan aneh. Daun-daun yang tadinya dari atas melayang naik kembali dan terapung-apung di tengah udara.

Pertempuran hebat dan adu tenaga khikang ini berlangsung lama dan menegangkan hingga semua tentara yang memegang obor dan menyaksikan pertandingan hebat ini menahan napas. Kedua panglima itu berhadapan dengan mata saling pandang dan kedua tangan bergerak-gerak dan diulur ke depan seakan-akan dua orang pengemis sedang minta sedekah, sedangkan daun-daun itu melayang-layang di tengah udara, sebentar menyambar turun, sebentar melayang naik kembali. Akan tetapi, akhirnya ternyata bahwa Lui Siok In kalah tinggi kepandaiannya dan tenaga khikangnya masih kalah setingkat oleh Balutin yang lihai itu.

Beberapa kali kedua orang itu berseru mengerahkan tenaga, dan perlahan tapi tentu, kedua tangan Lui Siok In mulai gemetar, sedangkan pada mukanya yang pucat itu mengucur peluh membasahi jidat dan pipinya. Daun-daun yang bergerak-gerak di udara itu mulai mendesak turun dan makin mendekati kepala Lui Sok In. Perwira she Lui itu maklum bahwa apabila adu khikang ini diteruskan, keadaannya akan berbahaya sekali. Maka secepat kilat ia lalu membuat gerakan Ikan Gabus Melompat Tinggi, menjatuhkan diri ke belakang sambil membuat gerakan berjungkir balik, lalu cepat menjatuhkan diri pula sambil bergulingan di atas tanah. Ia memang harus menggunakan gerakan ini, karena kalau tidak ia akan terpukul oleh tenaga khikang yang telah menekan dan mendesaknya. Dengan cara bergulingan itu ia memulihkan aliran darahnya kembali dan membebaskan ia daripada serangan daun-daun itu yang lalu meluncur dan jatuh ke atas tanah. Balutin tertawa bekakakan sambil bertolak pinggang.

“Ha-ha-ha! Hanya begitu saja kepandaianmu, Perwira muda! Dan kau berani bersombong hendak menawan aku? Ha-ha-ha!”

“Balutin jembel busuk, jangan sombong!” teriak Lui Siok In dengan marah sekali dan ia lalu mencabut pedang dan menyerang Balutin dengan hebat.

Balutin hanya tertawa dan ia memberi tanda ke belakang sambil mengelak ke samping. Seorang pembantunya segera melompat dan melemparkan sebatang tongkat yang panjang dan besar kepada Balutin. Setelah Balutin menerima senjatanya ini ternyata oleh Sui Siok In bahwa senjata itu adalah sebatang tongkat yang nampaknya berat sekali dan entah terbuat dari apa, karena kekuning-kuningan dan berkilau bagaikan emas. Maka keduanya lalu bertanding hebat sekali dan para tentara yang tadinya bersorak-sorak saja menyaksikan pertandingan ini, lalu bergerak maju makin mendekat! Perwira-perwira kedua belah fihak telah melompat maju dan pertandingan semakin seru hingga akhirnya kedua barisan maju saling gempur menimbulkan suara hiruk-pikuk!

Ujung pedang, golok dan lain-lain senjata berkelebat dan berkilauan di bawah sinar obor dan terdengarlah pekik jerit kemenangan tercampur keluh kesakitan. Darah mengucur keluar bersama peluh dan membasahi tanah yang terpaksa harus menerima segala kengerian yang dilakukan oleh manusia-manusia tu! Balutin benar-benar tangguh sekali. Baru bertempur beberapa puluh jurus saja maklumlah Lui Siok In bahwa ia takkan dapat mengalahkan pendeta gemuk ini, maka ia lalu berteriak memberi perintah hingga beberapa orang perwira maju mengeroyok. Juga Beng Kong Hosiang tidak ketinggalan mengeroyok Balutin.

Kepandaian Beng Kong Hosiang setingkat dengan kepandaian Lui-ciangkun, maka tentu saja ketika ia pun ikut menyerbu dengan perwira-perwira lain, Balutin mulai terdesak. Akan tetapi, dua orang perwira Turki maju dengan ilmu silat mereka yang aneh dan cepat hingga kembali pihak Balutin dan kawan-kawannya yang mendesak hebat!

Beng Kong Hosiang yang melihat betapa pihaknya terdesak hebat, menjadi marah sekali. Ia lalu memutar-mutar senjatanya yang istimewa, yaitu pacul yang bergagang bengkok itu dan menyerang Balutin dengan sepenuh tenaga. Memang semenjak tadi, yang diperhatikan oleh Balutin hanya Beng Kong Hosiang yang menyerangnya dengan ganas, maka ia cepat menangkis dan kedua orang ini bertempur seru sekali. Pada suatu saat, ketika Beng Kong Hosiang menyerampang kaki Balutin dengan paculnya, Balutin lalu menangkis sekuat tenaganya hingga terdengar bunyi keras sekali dan gagang pacul Beng Kong Hosiang telah patah! Akan tetapi, tongkat di tangan Balutin juga terlepas dari pegangan. Demikian hebat dan keras benturan tenaga itu!

Melihat betapa senjatanya telah patah, Beng Kong Hosiang berseru keras dan ia menyambitkan sisa senjatanya ke arah Balutin yang mengelak cepat. Gagang pacul yang disambitkan itu meluncur cepat bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya dan dengan jitu menancap di dada seorang Turki yang bertempur di belakang Balutin! Beng Kong Hosiang masih marah dan bagaikan seekor banteng terluka, ia lalu menubruk maju ke arah Balutin dengan Eng-jiauw-kang atau Cengkeraman Kuku Garuda! Tangan kirinya mencengkeram ke arah dada dan tangan kanannya ke arah leher lawan! Serangan ini hebat sekali dan Balutin berseru keras, menundukkan kepala untuk menghindari serangan leher dan serangan tangan pada dadanya ia tangkis dengan tangan kiri. Akan tetapi, gerakan Beng Kong Hosiang cepat dan ganas sekali hingga ketika lengan kiri Balutin menangkis, maka tangan kirinya itu berhasil mencengkeram lengan tangan Balutin yang menangkis! Balutin berseru kesakitan dan tangan kanannya lalu memukul ke dada lawan.

“Buk!” terdengar suara keras ketika pukulan tangan ini dengan jitu menghantam dada Beng Kong Hosiang.

Pukulan ini keras sekali datangnya hingga dari mulut Beng Kong Hosiang keluar darah segar dan tubuh hwesio itu terpental ke belakang dalam keadaan tidak bernyawa lagi! Akan tetapi, cengkeraman tangannya pada lengan kiri Balutin masih belum terlepas hingga tubuh Balutin terbawa maju. Balutin cepat sekali menggunakan jarinya mengetuk sambungan siku lawannya yang telah mati itu. Urat lengan Beng Kong Hosiang yang telah kaku itu ketika kena totokan ini menjadi mengendur dan pegangan atau cengkeramannya terlepas hingga tubuhnya lalu menggelinding ke bawah. Balutin memandang ke arah lengan kirinya yang telah menjadi matang biru karena cengkeraman lawan tadi!

Ia menggeleng-geleng kepala dan kagum akan ketangguhan Beng Kong Hosiang. Luka di lengan kirinya tidak berbahaya, maka ia lalu mengambil senjatanya lagi dan mengamuk hebat. Banyak perwira roboh di bawah pukulan tongkatnya. Sementara itu, tentara Tiongkok yang kurang terlatih oleh karena kaisar dan para perwira hanya ingat bersenang-senang saja selama ini, tidak kuat pula menghadapi tentara musuh. Apalagi mereka baru habis melakukan perjalanan hingga keadaan mereka masih lelah sekali, sedangkan pihak musuh sudah berhari-hari beristirahat di situ, maka biarpun jumlah mereka lebih besar, namun korban yang jatuh di pihak mereka juga lebih banyak.

Melihat kerugian yang diderita oleh pihaknya dan melihat kelihaian Balutin, Lui Siok In lalu memberi perintah mundur, sedangkan ia sendiri pun lalu melompat mundur. Tentara Tiongkok menarik diri dan mundur. Beberapa orang perwira segera diutus untuk mencari bala bantuan! Tentara Turki tidak mau mengejar oleh karena mereka mempunyai tugas yang lebih penting, yaitu menyelesaikan pembuatan perahu untuk dipakai menyeberang dan mengurus korban yang roboh di pihak mereka. Mereka hanya berjaga jaga saja kalau-kalau pihak musuh menyerbu lagi.

►►►►Lanjut ke jilid 036►►►►

◄◄◄◄ Kembali ◄◄◄◄

Tidak ada komentar:

Posting Komentar