*

*

Ads

Jumat, 04 Mei 2012

Pendekar Bodoh Jilid 046

◄◄◄◄ Kembali ◄◄◄◄

Mendengar ini, Cin Hai dan Yousuf girang sekali karena mereka juga berpendapat bahwa burung merak itu tentu saja dapat mencari mereka.

“Pergilah kalian segera membawa Sin-kong-ciak dan suruh burung itu mencari Kwee An dan Ma Hao. Lekas!” kata Yousuf dengan suara gembira.

Lin Lin dan Cin Hai lalu berlari-lari keluar dan Lin Lin bersuit memanggil burung merak yang segera terbang datang.

“Kong-ciak-ko, mari kau ikut kami!” katanya sambil berlari cepat kembali ke tebing tadi.

Burung merak itu mengeluarkan suara girang dan terbang mengikuti di atas mereka. Setelah tiba di tebing, Lin Lin lalu memberi tanda dengan tangannya menyuruh burung merak itu turun. Kemudian, sambil menunjuk ke bawah tebing, Lin Lin berkata,

“Kong-ciak-ko dengarlah baik-baik! Kwee An dan Ma Hoa hilang di bawah sana, kaucarilah mereka sampai dapat!”

Setelah mengulangi perintah ini sampai beberapa kali, tiba-tiba merak itu lalu memekik girang dan segera terbang ke bawah tebing. Ternyata ia telah dapat menangkap maksud perintah tadi! Lin lin merasa begitu tegang dan gembira hingga ia memegang tangan Cin Hai dan keduanya lalu berdiri menanti di tepi tebing dengan wajah agak tegang dan tak dapat mengeluarkan kata-kata. Hanya hati kedua anak muda ini yang berdebar dan bersama-sama berdoa semoga burung merak itu akan dapat menemukan kedua kawan mereka dan kembali sambil membawa berita baik! Lama sekali mereka menanti dan tiba-tiba mereka mendengar merak itu memekik di sebelah bawah. Dan bukan main heran mereka karena pekik merak itu adalah pekik kemarahan, seperti biasanya dikeluarkan apabila ia menghadapi seorang lawan! Berkali-kali merak itu memekik dan dengan wajah pucat Lin Lin bertanya kepada Cin Hai,

“Siapakah gerangan yang membuat Kong-ciak-ko demikian marah?”

Cin Hai juga tak dapat menduga dan hanya menjenguk ke bawah yang putih gelap tertutup halimun itu dengan penuh perhatian dan harap-harap cemas. Setelah terdengar pekik marah itu beberapa kali lagi, lalu di bawah menjadi sunyi, sunyi yang makin menggelisahkan hati kedua teruna remaja itu. Tiba-tiba terdengar bunyi pukulan sayap merak itu dan muncullah Sin-kong-ciak menembus halimun, terbang ke atas dan langsung mendarat di dekat Lin Lin. Ia mengangguk-anggukkan kepala sambil mengeluarkan keluhan-keluhan aneh dan ketika Cin Hai dan Lin Lin memandang, ternyata bahwa di kaki merak itu telah terlibat oleh seutas tali hijau yang ternyata terbuat daripada semacam akar pohon. Tali itu di bagian depan mengikat sepotong batu karang kecil yang agaknya digunakan untuk disambitkan hingga tali dapat melibat kaki Merak Sakti. Tentu saja ilmu kepandaian melempar tali dengan batu karang ini yang dapat melibat kaki Merak Sakti, menunjukkan bahwa pelemparnya tentulah seorang luar biasa. Jangankan tali itu sampai dapat melibat kaki Merak Sakti yang lihai dan pandai mengelak, sedangkan untuk menangkap burung biasa dengan cara aneh itu pun agaknya takkan mudah dilakukan oleh sembarang orang!

Dan yang membuat kedua anak muda itu merasa heran adalah sepotong kertas yang berada di ujung tali itu. Cin Hai cepat mencabut kertas itu dan ternyata bahwa di situ terdapat tulisan yang dilakukan dengan corat-coret kasar dan berbunyi, Pergilah kalian dan pelihara Merak ini baik-baik. Kalau ada jodoh, kelak bertemu.

“Aneh...“ kata Cin Hai, “tulisan siapakah ini dan apa maksudnya? Apa hubungannya dengan Kwee An dan Ma Hoa?”

Lin Lin yang membaca surat itu berkali-kali, juga tidak mengerti dan hanya memandang dengan bengong.

“Tentu ada seorang yang luar biasa pandai di sebelah bawah yang penuh rahasia itu,” katanya, “dengan batu ia dapat membelitkan tali bersurat kepada kaki Kong-ciak-ko dan ia dapat mengetahui pula keadaan kita berdua di sini. Sungguh heran dan ajaib!” Sekali lagi Cin Hai membaca surat itu dengan teliti.

“Dengan kata-kata pergilah kalian, orang aneh itu telah mengetahui bahwa kita berdua berada di sini dan menyuruh pergi tentu karena kedua orang saudara kita itu selamat. Ia menyuruh kita memelihara merak baik-baik karena agaknya ia kagum dan suka sekali kepada merak ini, sedangkan kata-kata kalau ada jodoh kelak bertemu adalah ucapan yang biasa dilakukan oleh pertapa atau orang-orang tua yang sakti. Ini hanya dugaanku saja, terutama tentang keselamatan Kwee An dan Ma Hoa, aku sendiri belum dapat memastikan benar.”

Mereka lalu kembali ke rumah Yousuf dan menceritakan peristiwa itu sambil memperlihatkan surat itu. Yousuf juga merasa heran akan tetapi ia berkata dengan suara mengandung penuh harapan,

“Orang yang mengirim surat secara aneh ini tentu seorang pandai dan kalau ia dapat mengetahui keadaan kalian di atas tebing, tentu ia tahu pula apa yang kalian cari. Maka menurut dugaanku, Kwee An dan Ma Hoa tentu tertolong olehnya!”

“Akan, tetapi, kalau benar demikian halnya, mengapa ia tidak menyuruh An-ko dan Ma Hoa kembali ke sini?” tanya Lin Lin.

Yousuf menggeleng-geleng kepala dan memejamkan matanya karena pembicaraan ini walaupun dilakukan sambil berbaring, cukup melelahkan tubuhnya yang lemah. Yousuf adalah seorang perantau yang banyak pengalaman dan ia mengerti pula cara pengobatan, maka ia dapat merawat luka-lukanya sendiri. Semenjak terjadinya peristiwa yang menguatirkan itu, yaitu lenyapnya Kwee An dan Ma Hoa serta terlukanya Yousuf, Cin Hai lalu menggembleng Lin Lin lebih rajin dan tekun lagi sambil memberi nasihat agar supaya gadis kekasihnya itu melatih diri baik-baik siang dan malam karena Cin Hai hendak meninggalkannya.

“Kau harus dapat menguasai Ilmu Pedang Han-le-kiam-sut serta kedua Ilmu Pukulan Pek-in-hoatsut dan Kong-ciak-sin-na baik-baik untuk menjaga bahaya mendatang, karena aku harus meninggalkan kau dan Yo-peh-peh beberapa lama untuk mencari Kwee An dan Ma Hoa. Hatiku takkan tenteram sebelum dapat menemukan mereka,” katanya.

Lin Lin juga mengatakan setuju. Tentu saja ia ingin sekali ikut akan tetapi keadaan Yousuf yang rebah dengan tubuh masih lemah dan belum sembuh lukanya itu memerlukan tenaga bantuan dan rawatannya, hingga ia tidak tega untuk meninggalkan ayah angkatnya yang dikasihinya itu. Demikianlah, mereka berlatih siang malam tanpa mengenal lelah hingga setelah digembleng secara demikian untuk sebulan lamanya, Cin Hai menjadi puas sekali.

“Lin-moi,” katanya girang setelah ia mencoba melawan Lin Lin dan mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang gadis itu kini benar-benar telah hebat sekali. “Sekarang, biarlah Bo Lang Hwesio dan Ke Ce datang, bahkan biarlah mereka itu membawa dua tiga orang kawan lagi. Dengan adanya kau di sini, seorang diri saja kau akan sanggup memukul roboh mereka semua.”

“Benarkah itu, Koko? Menurut pendapatku sendiri, kepandaianku masih sama saja.” Cin Hai tersenyum

“Memang demikianlah adanya. Kemajuan sendiri takkan pernah terasa atau terlihat sendiri, orang lain yang bisa menentukannya. Makin pandai seseorang ia akan makin merasa dirinya bodoh. Kauingat akan nama guru kita? Bu Pun Su, artinya Tiada Kepandaian! Suhu yang ilmunya telah mencapai puncak kesempurnaan itu, bahkan mengaku bahwa Beliau tidak memiliki kepandaian sama sekali. Kepandaianmu sekarang telah berlipat beberapa kali kalau dibandingkan dengan sebulan yang lalu. Kalau tidak percaya, mari kita tanyakan kepada Yo-pekhu.” Keduanya lalu mendatangi Yousuf yang berangsur sembuh dan kini telah dapat duduk. “Yo-pekhu, coba kaulihat ilmu pedang Lin Lin dan nyatakan pendapatmu!” kata Cin Hai.

Yousuf tersenyum dan mengangguk-angguk dan Lin Lin lalu bersilat dengan pedang pendeknya di depan Yousuf. Pedang pendek Han-le-kiam menyambar-nyambar dan merupakan sinar putih kebiru-biruan berkelebat di sekeliling tubuh Lin Lin yang menari-nari dengan gaya indah. Walaupun pedang itu pendek saja, namun sinarnya seakan-akan menjadi senjata yang panjang hingga dapat dibayangkan bahwa gerakan pedang itu cepat sekali. Yang hebat ialah bahwa tangan kiri Lin Lin tidak tinggal diam, akan tetapi membarengi gerakan tangan kanan yang memegang pedang pendek dan melakukan penyerangan pula sambil mainkan jurus-jurus yang lihai dan aneh dan Ilmu Silat Pek-in Hoatsut dan Kong-ciak Sin-na. Setelah ia berhenti mainkan ilmu pedangnya sambil memandang ke arah ayah angkatnya itu dengan mata mengandung pertanyaan, Yousuf menarik napas panjang karena tadi ia seperti menahan napas karena kagumnya.

“Ah, sungguh sukar dipercaya bahwa kepandaian ini baru kaupelajari beberapa puluh hari saja. Terus terang saja, aku sendiri belum tentu kuat menghadapimu dalam sepuluh jurus. Kau hebat, anakku dan terima kasih kepada Cin Hai yang telah mendidikmu.” Cin Hai tersenyum girang, lalu menjura sambil berkata,

“Terima kasih itu tak seharusnya ditujukan kepadaku, Yo-pekhu, akan tetapi kepada Suhu Bu Pun Su. Sekarang aku hendak turun gunung dan mencari jejak Kwee An dan Ma Hoa. Dengan kepandaian Lin Lin sekarang, aku dapat meninggalkan kalian dengan hati tenteram. Lin-moi, harap kau jangan malas untuk melatih diri selama aku pergi.” Lin Lin mengerling tajam.

“Apakah memang aku biasanya malas? Koko, jangan terlalu lama pergi!”

“Mana aku kuat meninggalkan kau terlalu lama?”

Kemudian, setelah sekali lagi memandang kepada Lin Lin dan menjura kepada Yousuf, Cin Hai lalu melompat dan tubuhnya berkelebat lenyap dari hadapan kedua orang itu.

“Lin Lin, kau bahagia sekali mendapat jodoh seperti Cin Hai,” kata Yousuf dengan gembira.

Lin Lin tidak menjawab, hanya menjatuhkan diri duduk di atas sebuah kursi pembaringan Yousuf sambil tersenyum dan pandang matanya melayang jauh dalam lamunan.

Cin Hai mempergunakan ilmunya untuk berlari cepat menuruni bukit itu. Ia terus turun sampai di kaki bukit, lalu mengambil jalan memutar menuju ke kaki gunung di bawah tebing yang curam di mana Kwee An dan Ma Hoa terjatuh. Ternyata bagian ini, ialah bagian sebelah timur, penuh dengan hutan belukar dan lereng gunung itu walaupun terdiri dari tanah yang tidak keras, akan tetapi sukar dilalui karena penuh dengan jurang-jurang dan rawa-rawa yang penuh alang-alang. Bahkan ada bagian yang nampaknya seperti tanah rata ditumbuhi rumput tebal, akan tetapi ketika terinjak, ternyata bahwa di bawahnya merupakan tanah lumpur yang berbahaya karena sekali kedua kaki masuk ke situ, orang takkan mampu menarik kembali kedua kakinya yang makin lama tersedot makin dalam!

Karena rawa yang demikian ini luas sekali dan tak mungkin diloncati begitu saja karena lebarnya, Cin Hai lalu mencari akal. Ia menggunakan pedangnya untuk memotong banyak batang pohon bambu dan melemparkan bambu itu ke atas rumput itu. Ia membawa beberapa batang bambu yang panjang dan menginjak bambu yang telah dilempar di atas rumput, kemudian ia menurunkan bambu sebatang lagi disambungkan kepada bambu yang diinjaknya. Dengan cara demikian ia membuat jembatan bambu yang sambung menyambung dan yang dapat diinjak tanpa kuatir tenggelam, hingga akhirnya setelah menghabiskan tujuh bambu panjang, ia dapat juga menyeberang rawa yang aneh dan berbahaya ini!

Cin Hai terus maju dengan hati-hati sekali, pedang Liong-coan-kiam siap di tangan karena ia tidak tahu apa yang akan muncul di tempat yang belum pernah terinjak oleh kaki manusia itu. Akhirnya ia tiba juga di suatu tempat yang merupakan lereng yang curam dan yang tegak ke atas. Ketika ia memandang ke atas ternyata di atas penuh dengan halimun dan mengira-ngira di mana kiranya Kwee An dan Ma Hoa terjatuh. Ketika ia maju sedikit ia melihat banyak gua di lereng itu, besar-besar dan gelap. Hatinya berdebar keras. Boleh jadi sekali orang aneh yang telah mengirim surat itu tinggal di sebuah di antara gua-gua ini!

►►►►Lanjut ke jilid 047►►►►

◄◄◄◄ Kembali ◄◄◄◄

Tidak ada komentar:

Posting Komentar