*

*

Ads

Sabtu, 12 Mei 2012

Pendekar Bodoh Jilid 068

◄◄◄◄ Kembali ◄◄◄◄

Yousuf berkata lagi,“Karena pihakku hanya ada tiga orang jago, sedangkan kulihat bahwa kau membawa enam orang tukang pukul, maka kau boleh majukan tiga orang tukang pukulmu.”

“Orang sombong, kau anggap kami tukang pukul? Jaga lidahmu baik-baik!” kata Giok Yang Cu, orang ke dua Kang-lam Sam-lojin yang bertubuh tinggi besar. Yousuf tersenyum dan memandangnya dengan mengejek,

“Aku adalah tuan rumah, mengapa harus menjaga lidah? Kaulah yang harus menjaga lagakmu baik-baik. Apakah kau merupakan orang pertama yang maju mewakili pihakmu?”

Sebelum Giok Yang Cu menjawab, terdengar suara tertawa bergelak dari luar rumah dan terdengarlah suara orang,

“Sahabatku Yo Se Pu, jangan kau borong semua babi-babi itu, berilah kesempatan kepadaku untuk menikmati dagingnya juga!”

Dan dari luar berkelebatlah tiga bayangan orang memasuki rumah itu. Mereka ini bukan lain adalah Nelayan Cengeng yang mengeluarkan kata-kata tadi, diikuti oleh Kwee An dan Ma Hoa! Bukan main girangnya hati Yousuf melihat Kwee An dan Ma Hoa hingga ia melompat maju dan memeluk mereka berdua seakan-akan seorang ayah bertemu dengan dua orang anaknya yang telah disangka mati. Kedua mata orang Turki ini basah dengan air mata. Ia pun lalu memegang tangan Nelayan Cengeng dengan girang dan berkata kepada Sahimba,

“Dasar kau yang sedang berbintang gelap! Dengan datangnya ketiga orang ini, keadaan kita menjadi berimbang jumlahnya!”

Kemudian, tanpa mempedulikan Sahimba dan kawan-kawannya, Yousuf lalu memperkenalkan Ibrahim kepada Nelayan Cengeng, Ma Hoa, dan Kwee An hingga mereka bertiga lalu menjura memberi hormat yang dibalas dengan gembira oleh Ibrahim.

“Nama kalian telah kukenal lama sekali dan setelah melihat orang-orangnya, aku makin merasa kagum saja!” kata kakek itu.

Sementara itu, Giok Yang Cu yang sudah maju ke depan akan tetapi tidak mendapat pelayanan dari tuan rumah yang sebaliknya sibuk bercakap-cakap dengan pendatang-pendatang baru itu, menjadi mendongkol sekali.

“Yousuf apakah tidak ada orang yang berani melawanku?” tegurnya marah.

Melihat laku Giok Yang Cu, Nelayan Cangeng tertawa lagi bergelak-gelak dan berkata kepada Yousuf,

“Saudara Yo, mengapa kau tidak segera memberi sepotong tulang busuk kepada anjing itu agar ia tidak melolong-lolong lagi?” kemudian ia tertawa lagi dengan geli hati hingga keluar air mata bercucuran dari kedua matanya!

“Orang gila jangan kau menghinaku!” seru Giok Yang Cu yang segera mencabut pedangnya.

Akan tetapi sebelum ia maju menyerang Nelayan Cengeng, Yousuf telah melompat di depannya dan berkata,

“Sebagai tuan rumah, biarlah aku turun tangan lebih dulu!”

Orang Turki ini lalu mencabut pedangnya pula dan kedua orang ini segera bertempur hebat, disaksikan oleh semua orang yang berada di situ. Ilmu Pedang Liong-san Kiam-hwat telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan hingga ilmu kepandaian Giok Yang Cu jauh lebih lihai daripada dulu, sedangkan pertapa tinggi besar ini terkenal sebagai ahli gwakang yang memiliki tenaga sebesar gajah, maka ketika ia mainkan pedangnya, pedang itu mendatangkan angin dan mengeluarkan suara.

Akan tetapi Yousuf selain tinggi ilmu kepandaiannya juga telah banyak sekali pengalamannya bertempur menghadapi orang-orang pandai, maka ia dapat bergerak dengan tenang menghadapi gempuran-gempuran dahsyat dari lawannya itu. Juga, semenjak dekat dengan Nelayan Cengeng, Lin Lin dan yang lain-lain, Yousuf telah banyak memahamkan rahasia-rahasia ilmu silat Tiongkok hingga pengertiannya menjadi luas dan kepandaiannya banyak maju.

Giok Yang Cu tadinya merasa girang melihat bahwa yang maju menghadapinya adalah orang Turki itu, karena betapapun juga, ia anggap bahwa kepandaian orang itu tentu tak seberapa tinggi. Akan tetapi setelah bertempur dua puluh jurus lebih ia menjadi terkejut dan diam-diam mengeluh, karena dalam hal kecepatan dan tenaga, orang Turki itu tidak kalah bahkan lawannya itu hebat sekali gerakan pedangnya dan tingkat ginkangnya lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri! Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan kejerihannya dan maju mendesak makin hebat dengan serangan-serangan yang ditujukan ke bagian-bagian yang berbahaya.

Yousuf tidak menjadi gugup sungguhpun desakan lawannya yang menggunakan gerakan terlihai dari Liong-sam-hwat yang disebut Naga Liong-san Mengamuk itu hebat sekali. Dengan ketenangannya yang diperkuat oteh kekuatan batinnya, Yousuf menghadapi serbuan sambil mainkan pedangnya dengan cepat hingga tubuhnya tertutup oleh gulungan sinar pedangnya. Tiba-tiba terdengar pekik kesakitan Giok Yang Cu dan Si Tinggi Besar itu roboh dengan dada terluka oleh pedang Yousuf. Walaupun luka itu tidak membahayakan nyawanya, akan tetapi cukup membuat ia pada waktu itu tidak berdaya lagi dan harus mengundurkan diri sambil dibantu oleh adiknya yaitu Giok Keng Cu. Yousuf juga melangkah mundur dan berkata kepada Sahimba,

“Seorang tukang pukulmu telah kalah, Sahimba!”

Terdengar bentakan keras dan tahu-tahu Giok Im Cu, saudara tertua dari Kang-lam Sam-lojin telah melompat maju dengan gesit sekali dan di tangannya memegang sebatang bambu panjang. Giok Im Cu hendak menebus kekalahan sutenya, maka tanpa bertanya lagi kepada Sahimba ia telah melompat ke tengah lapangan bersilat.

“Biar pinto menerima pengajaran dari tuan rumah!” katanya.

“Pek-hu, biarkan aku main-main dengan Tosu ini,” kata Ma Hoa yang mendahului Ang I Niocu, karena ia merasa tertarik melihat bahwa tosu itu pun bersenjata sebatang tongkat.

“Kau?” Yousuf memandang ragu-ragu, akan tetapi Nelayan Cengeng segera berkata,

“Saudara Yo, keponakan Ma Hoa ini telah mempelajari cara memukul anjing, biarkan dia maju!”

Yousuf selamanya tak pernah meragukan ucapan Nelayan Cengeng apa lagi dalam hal ini tentu saja Nelayan Cengeng takkan membiarkan muridnya yang terkasih itu menghadapi bencana, maka ia lalu menganggukkan kepala sambil berkata kepada Ma Hoa,

“Baiklah, akan tetapi kau berhati-hatilah!”

Ma Hoa tersenyum dan segera melangkah maju menghadapi Giok Im Cu yang merasa tidak enak sekali. Ia merasa sungkan dan dipandang rendah. Masa ia seorang tokoh besar di kalangan kang-ouw harus menghadapi seorang gadis muda yang cantik dan bertangan kosong ini?

“Nona, dengan senjata apakah kau hendak memberi pengajaran kepada pinto?”

Ma Hoa tersenyum dan mencabut keluar sepasang bambu runcingnya yang berwarna kuning dan bentuknya pendek itu.

“Dengan ini!” jawabnya singkat.

Terbelalak mata Giok Yang Cu memandang senjata yang aneh itu, akan tetapi berbareng pada saat itu juga ia merasa berdebar karena teringat akan seorang sakti yang menjadi ahli dalam permainan sepasang bambu runcing yang pendek. Segera ia menggerak-gerakkan senjatanya dan berkata,

“Mari, mari, majulah!”

Ma Hoa tidak berlaku sungkan lagi dan segera menyerang dengan kedua bambu runcing yang digerakkan secara luar biasa. Yousuf yang belum pernah melihat Ma Hoa bermain bambu runcing itu merasa terheran-heran hingga tak terasa lagi terjatuh ke dalam kursinya, duduk sambil memandang bengong. Gerakan gadis ini benar-benar lihai dan indah dipandang. Rambutnya yang terurai bergerak-gerak di sekeliling kepalanya sedangkan bambu runcing itu ketika digerakkan untuk menyerang, demikian cepat gerakannya hingga seolah-olah berubah menjadi puluhan batang!

Giok Im Cu tercengang melihat ini dan ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi serangan yang amat aneh ini. Makin keras dugaannya ketika melihat permainan ini karena selama ia hidup, baru sekali ia pernah menyaksikan permainan sepasang tongkat yang luar biasa, yaitu yang dimainkan oleh Hok Peng Taisu, seorang pertapa sakti yang lihai. Ia mengigit bibir dan sebagai seorang ahli lweekang ia lalu mengerahkan lweekangnya hingga tiap sambaran tongkatnya membawa tenaga besar yang ganas. Ia hendak mengandalkan tenaga lweekangnya untuk mengalahkan gadis yang pandai bermain bambu runcing itu. Akan tetapi kembali ia tercengang karena gadis itu dengan pandainya tak mau mengadu tenaga, hanya mengandalkan kelincahannya untuk berkelebat di antara sambaran tongkat lawannya, dan mengirim serangan-serangan berupa totokan dan tusukan ke arah jalan darah lawan!

Ramai sekali mereka bertempur, dan kini Yousuf tak dapat menguasai kegembiraannya lagi. Berkali-kali ia berseru dengan girang sambil mengeluarkan pujian-pujian. Lima puluh jurus telah lewat dan Giok Im Cu mulai terkurung oleh pukulan batang bambu runcing yang seakan-akan bergerak berbareng mengurung dirinya itu. Ia mencoba untuk mengirim pukulan maut, akan tetapi, tiba-tiba ia merasa sebelah tubuhnya bagian kanan menjadi lumpuh dan mati hingga tak terasa lagi tongkatnya terlepas dari pegangan dan jatuh ke atas lantai. Ternyata jalan darah Ta-sen-hiat telah tertotok oleh ujung bambu runcing Ma Hoa. Gadis itu pun menahan sepasang senjatanya dan memandang sambil mengeluarkan senyuman. Wai Sauw Pu pendeta bersorban itu melompat dan seketika ia mengeluarkan tangan menepuk pundak dan mengurut punggung Giok Im Cu, tosu itu pulih kembali jalan darahnya. Giok Im Cu menjura kepada Ma Hoa dan bertanya,

“Nona, apakah hubunganmu dengan Hok Peng Taisu?”

“Ada perlu apakah kau menanyakan Suhuku?”

“Oh... jadi kau murid Hok Peng Taisu? Pantas... pantas.” dengan kecewa sekali Giok Im Cu mengundurkan diri.

Ia tadi merasa penasaran dan malu sekali karena dikalahkan sedemikian macam oleh seorang gadis muda yang tidak terkenal. Bagi seorang jagoan, jauh lebih baik dikalahkan sampai tewas dalam pertandingan daripada dikalahkan secara demikian, yaitu tertotok sampai tak berdaya yang hampir sama dengan penghinaan namanya. Akan tetapi setelah ia mendengar bahwa gadis itu adalah murid Hok Peng Taisu, rasa penasarannya sebagian besar lenyap. Ia telah menyaksikan kepandaian Hok Peng Taisu dan maklum bahwa ilmu kepandaian mainkan bambu runcing itu adalah semacam ilmu yang takkan dapat dilawannya, biarpun ia akan melatih diri sepuluh tahun lagi! Dengan girang sekali, juga disertai kebanggaan hati, Yousuf lalu menghampiri Ma Hoa dan berkata,

“Anak nakal, kelak kau harus menceritakan padaku darimana kau mendapatkan ilmu silat yang luar biasa itu!”

Melihat betapa dua kali fihaknya mengalami kekalahan, Sahimba gelisah sekali dan hendak minta kepada Siok Kwat Mo-li yang dianggap paling lihai di antara semua pembantunya untuk menebus kekalahan. Akan tetapi, Wai Sauw Pu yang merasa penasaran dan marah, telah mendahului dan kini pendeta bersorban yang tinggi besar itu telah berdiri sambil bersedakap dan menantang.

“Dia yang mempunyai kepandaian boleh maju!”

Pendeta dari Sin-kiang ini selain bertubuh tinggi besar, juga sepasang matanya tajam berpengaruh sekali. Ia memang telah mempelajari banyak ilmu kepandaian yang tinggi, diantaranya ia mempelajari pula hoat-sut (ilmu sihir) yang datang dari barat. Pernah ia menghadapi Ang I Niocu dan tahu bahwa dalam hal ilmu silat, belum tentu ia akan dapat menangkan rombongan lawan yang biarpun masih muda-muda akan tetapi memiliki ilmu silat tinggi, maka kini ia mengambil keputusan untuk melawannya dengan ilmu silat yang dipengaruhi sihir! Oleh karena itu, ia memasang kuda-kuda dengan berpangku tangan seperti orang hendak bertapa berdiri! Ketika Ang I Niocu hendak maju, tiba-tiba Ibrahim berseru,

“Ang I Niocu, tahan dulu, yang besar ini adalah bagianku!”

Dengan langkah yang sembarangan bagaikan orang lelah atau malas, Ibrahim menghampiri Wai Sauw Pu dan memandangnya dengan muka memperlihatkan kegelian hatinya. Si Pendeta Tinggi Besar itu tertawa ketika ia berkata,

“Aku tadi mendengar bahwa kau diperkenalkan sebagai guru dari Yousuf, apakah kau orang tua yang sudah tinggal menanti saat terakhir ini juga hendak meniru kedunguan muridmu dan mencampuri urusan orang lain?”

“Wai Sauw Pu, sebagai seorang yang mempelajari kebatinan, agaknya kau lupa akan dua perkara. Pertama, bahwa jalan yang ditunjuk Tuhan bagi manusia adalah jalan kebenaran yang berdasarkan amal kebaikan dan bahwa mereka yang berjalan di atas ini saja akan mendapat berkah abadi. Ke dua, bahwa akhir kehidupan tidak tergantung daripada usia tua, bilamana saja Tuhan menghendaki, setiap manusia, tua maupun muda, akan berakhir hidupnya! Akan tetapi kau telah melanggar syarat pertama dan tidak berjalan di atas jalan kebenaran, bahkan membiarkan hatimu ditunggangi oleh nafsu keduniaan dan menjadi silau oleh bersinarnya emas yang sebetulnya tiada bedanya dengan tanah lempung biasa! Pula, kau telah mengingkari kekuasaan Tuhan yang berkuasa atas nyawa setiap manusia dengan mengatakan bahwa saat terakhir bagiku sudah dekat, karena menurut pandanganku yang bodoh kalau kau tidak lekas-lekas mengubah dan menginsyafi kesesatanmu, agaknya kaulah yang akan mendahului aku masuk ke dalam neraka!”

Tadinya Wai Sauw Pu sengaja mengucapkan omongan menghina untuk memancing kemarahan dalam hati kakek tua itu, akan tetapi tidak tahunya sekarang dia sendiri yang menjadi marah mendengar petuah ini! Ia hendak membikin lawan yang akan dihadapinya marah karena ia maklum bahwa kemarahan akan melemahkan batin orang agar mudah dipengaruhi oleh ilmu sihirnya. Ia tidak tahu bahwa ia berhadapan dengan Ibrahim, tokoh tua yang dihormati orang di Turki oleh karena selain pandai ilmu silat dan pengobatan, kakek ini terkenal sebagai seorang ahli kebatinan berilmu tinggi!

“Kalau begitu, hendak kita lihat bersama saja, siapa yang akan mampus terlebih dahulu!” teriak Wai Sauw Pu sambil mengeluarkan senjatanya yang luar biasa, yaitu seikat tasbeh dari gading.

Ang I Niocu, Ma Hoa dan Kwee An pernah merasai kelihaian Wai Sauw Pu ini maka mereka memandang dengan penuh kekuatiran. Dapatkah kakek rambut putih yang kelihatannya lemah itu menghadapi pendeta tinggi besar itu? Hanya Yousuf seorang yang masih tenang karena ia percaya penuh akan kelihaian gurunya.

Gerakan tasbeh gading di tangan Wai Sauw Pu kali ini berbeda dengan gerakan biasanya, karena kini ia bersilat dengan ilmu sihir sehingga dari sambaran gadingnya itu seakan-akan keluar hawa yang membuat hati menjadi gentar dan berpengaruh melemahkan semangat lawan. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara halus dari Ibrahim dan kakek rambut putih ini pun lalu menarik keluar seikat tasbeh kecil yang terbuat daripada batu-batu kemala putih! Tasbeh ini kecil saja dan digerakkan dengan lambat dan perlahan, akan tetapi aneh, tiap kali tasbeh gading dari Wai Sauw Pu menyambar dan bertemu dengan tasbeh kecil itu, senjata pendeta bersorban itu terpukul dan membalik menyambar ke arah muka atau tubuh pemegangnya sendiri!

Wai Sauw Pu terkejut sekali karena ia baru maklum bahwa kakek itu ternyata memiliki ilmu batin yang kuat sehingga ilmu sihir yang ia kerahkan dalam serangan tasbehnya ternyata telah dikembalikan dan membahayakan dirinya sendiri! Ia cepat menghentikan ilmu sihirnya dan kini menyerang dengan menggunakan seluruh tenaga dan kepandaian silatnya! Ia bertindak benar. Kalau saja ia melanjutkan serangannya mengandalkan ilmu sihir, dia pasti akan menderita celaka karena dalam hal ilmu sihir, gurunya sendiri belum tentu akan dapat mengatasi kekuatan Ibrahim!

Akan tetapi dalam hal ilmu silat, ternyata bahwa keadaan mereka seimbang. Ibrahim yang sudah tua itupun harus mengerahkan kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang benar-benar tangguh ini! Kalau saja dia mau, Ibrahim dengan mudah dapat menggunakan kekuatan batinnya untuk merobohkan Wai Sauw Pu tanpa mengeluarkan tenaga tubuh, akan tetapi ia tidak mau melakukan hal ini. Kalau lawannya mempergunakan ilmu hitam barulah ia akan menjaga diri dan mengembalikan segala serangan itu, akan tetapi oleh karena Wai Sauw Pu kini hanya mengandalkan kepandaian silatnya, Ibrahim yang tidak mau bermain curang itu pun lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melawan. Biarpun ilmu silat mereka seimbang, akan tetapi Ibrahim kalah tenaga dan kalah ganas, biarpun ia menang dalam hal ketenangan dan pengalaman. Oleh karena itu, kedua orang itu bertempur dengan ramai sekali, sukar diduga siapa yang akan mendapat kemenangan terakhir.

Ang I Niocu, Ma Hoa, Kwee An, dan Nelayan Cengeng menjadi gelisah juga dan merasa kasihan melihat betapa Ibrahim yang sudah tua sekali itu terpaksa bertempur mati-matian menghadapi Wai Sauw Pu yang mempunyai gerakan ganas dan kuat. Akhirnya Nelayan Cengeng tak dapat menahan hatinya lagi dan dengan keras ia berkata,

“Ha-ha-ha! Alangkah lucunya! Seorang tinggi besar dan kuat seperti itu tidak berdaya menghadapi seorang kakek tua renta. Sedangkan tasbehnya saja gede-gede, segede obrolan dan kesombongannya. Ha-ha-ha. Lihat, lihat, aku berani bertaruh apa saja, dalam sepuluh jurus lagi ia tentu akan roboh bertekuk lutut!”

Bukan main marahnya Wai gauw Pu mendengar ejekan ini, karena ia pun tadi telah merasa penasaran dan panas perut karena kakek rambut putih itu ternyata sukar sekali dijatuhkan, kini ditambah dengan sindiran Nelayan Cengeng, ia tidak dapat menahan marahnya lagi dan sekali ia berseru, tangan kirinya telah mengayun senjata rahasianya yang lihai yaitu golok-golok kecil yang disebut Hui-to (Golok Terbang) dan yang jumlahnya tiga buah itu meluncur cepat ke arah Ibrahim. Hui-to ini selain harus menggunakan tenaga lweekang untuk menyambitkannya, juga disertai ilmu sihir sehingga golok itu seakan-akan hidup dan menyambar bagaikan digerakkan oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan. Ibrahim tertawa bergelak dan berkata,

“Wai Sauw Pu, mengapa kau menyerang dirimu sendiri dengan hui-to?”

Dan aneh, sehabis kakek itu mengeluarkan ucapan ini disertai gerakan tangan kirinya, tiga batang golok yang meluncur ke arahnya itu tiba-tiba membelok dan membuat gerakan kembali serta menyerang ke arah Wai Sauw Pu sendiri. Bukan main terkejutnya pendeta bersorban itu ketika melihat betapa tiga batang hui-tonya menyerang dia dan tak dapat dikendalikan oleh kekuatan sihirnya lagi, maka cepat-cepat ia mengebut dengan tasbehnya ke arah tiga batang golok itu sambil membentak.

“Runtuh!!”

Benar saja, tiga batang golok itu runtuh ke bawah, akan tetapi yang sebatang masih menghantam kakinya sehingga terlukalah kakinya oleh ujung golok. Pada saat itu, di luar terdengar sorak sorai hebat dan Sahimba dengan senyum menyeringai lalu berseru,

“Yousuf, tibalah saatnya kalian binasa di ujung senjata!”

Sambil berkata demikian, Sahimba lalu mencabut pedang dan menyerang Yousuf, diikuti oleh Siok Kwat Mo-li yang mencabut sabuk kuning emas dan mainkan sabuk itu dengan hebat. Lok Kun Tojin lalu mengeluarkan senjatanya yang lihai, yaitu sepasang roda yang diikat dengan tali. Juga ketiga orang tosu Kang-lam Sam-lojin lalu menarik keluar senjata masing-masing dan maju menyerbu kepada Yousuf dan kawan-kawannya.

“Manusia-manusia curang!” seru Nelayan Cengeng sambil memutar-mutar dayungnya yang hebat bagaikan seekor naga sungai mengamuk.

Ang I Niocu juga lalu mencabut pedang Cian-hong-kiam, Kwee An mencabut pedangnya Oei-hong-kiam yang bercahaya kuning, sedangkan Ma Hoa lalu menggerak-gerakkan sepasang bambu runcingnya! Pertempuran dalam ruangan itu makin menghebat, dan kini mereka bertempur bukan untuk mengadu kepandaian, akan tetapi mengadu jiwa!

Ternyata bahwa sorakan tadi datang dari kawan-kawan Sahimba yang memang telah direncanakan untuk maju menyerbu dan jumlah mereka amat besar sehingga orang-orang kampung pengikut Pangeran Tua yang dikepalai oleh Yousuf terdesak. Para penyerbu itu telah tiba di depan pintu Yousuf dan sebentar lagi mereka menyerbu ke dalam, membantu Sahimba dan kawan-kawannya! Siok Kwat Mo-li dilawan oleh Ang I Niocu, Lok Kun Tojin dilawan oleh Nelayan Cengeng sedangkan Kang-lam Sam-lojin bertempur melawan Ma Hoa dan Kwee An. Kepandaian mereka berimbang dan pertempuran pasti akan berjalan seru dan lama apabila fihak Sahimba tidak menggunakan kecurangan.

Terdengar seruan Siok Kwat Mo-li dan iblis wanita ini lalu menyebar jarum-jarumnya yang berbahaya, sedangkan Wai Sauw Pu kembali mengeluarkan hui-to-hui-to yang tak kurang berbahayanya pula. Tak lama kemudian, selagi Yousuf dan kawan-kawannya terdesak karena fihak lawan menyebar senjata-senjata rahasia yang lihai itu, dari luar masuklah para penyerbu yang telah berhasil memecahkan pertahanan para anak buah Yousuf. Pengikut-pengikut Pangeran Muda lebih ganas dan lebih banyak jumlahnya, sehingga banyak sekali anggota pengikut Pangeran Tua kena dilukai atau dibinasakan. Melihat itu, Ibrahim segera berseru nyaring bagaikan seorang berdoa,

“Ampunkan hamba, Tuhan! Bukan maksud hamba hendak mengotorkan tangan membunuh, akan tetapi demi keselamatan semua kawan ini!” ia lalu mengerahkan kesaktiannya dan tiba-tiba ia mementang kedua lengannya ke depan dengan mata memandang penuh kekuatan batin. “Sahimba... Dan enam orang kawanmu... dengarlah... aku perintahkan kalian berlutut... berlutut... berlutut...!”

Hal yang aneh terjadi. Sahimba dan kawan-kawannya tiba-tiba merasa kepala mereka pening dan tak dapat menguasai diri sendiri lagi. Akhirnya, seorang demi seorang menjatuhkan diri berlutut dan melempar senjata! Hanya Wai Sauw Pu yang juga memiliki ilmu sihir itu masih kuat mempertahankan diri.

“Ha-ha-ha... tua bangka... kau harus mampus...”

Dan secepat kilat ia mengayun enam batang hui-to ke arah Ibrahim yang masih berdiri diam dengan tangan terpentang bagaikan patung. Enam batang hui-to itu menancap dengan jitu ke sasarannya dan tubuh Ibrahim terhuyung-huyung lalu roboh. Wai Sauw Pu tertawa bergelak-gelak, akan tetapi pada saat itu sebatang dayung di tangan Nelayan Cengeng menghantamnya dan biarpun ia masih mencoba mengelak, akan tetapi dayung itu masih menghantam dadanya sehingga beberapa tulang iganya patah-patah dan ia roboh di dekat mayat Ibrahim dalam keadaan tidak bernyawa pula!

Sementara itu, karena tewasnya Ibrahim maka pengaruh sihirnya pun lenyap dan Sahimba beserta kawan-kawannya menjadi sadar kembali. Akan tetapi, sebelum mereka sempat mengambil kembali senjata mereka, Yousuf yang marah sekali telah maju menyerang Sahimba hingga tembuslah punggung Sahimba oleh pedang Yousuf. Juga Ang I Niocu dan kawan-kawannya lalu menyerang lawan-lawannya yang kini melakukan perlawanan dengan tangan kosong.

Akan tetapi, para penyerbu yang terdiri dari anak buah Sahimba, telah masuk dan mengeroyok, sehingga Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin dan ketiga Kang-lam Sam-lojin telah mendapat kesempatan untuk mengambil senjata mereka kembali. Pertempuran hebat berlangsung terus dan kini Yousuf dan kawan-kawannya mengamuk seperti harimau-harimau berebut daging. Terutama sekali Nelayan Cengeng yang sambil tertawa bergelak dan mata mengalirkan air mata, memutar-mutar dayungnya dengan dahsyat sehingga tidak saja para penyerbu menjadi gentar, akan tetapi juga Siok Kwat Moli dan kawan-kawannya menjadi jerih juga.

Dalam perkelahian itu, Siok Kwat Mo-li mendapatkan luka oleh tusukan pedang Ang I Niocu di pundaknya, sedangkan sebuah roda dari Lok Kun Tojin telah terampas oleh bambu runcing Ma Hoa. Oleh karena ini, mereka makin cemas dan lenyaplah nafsu perlawanan mereka, apalagi karena kini Sahimba yang mereka bantu telah tewas dan anak buahnya mulai melarikan diri pula. Dengan teriakan keras, Siok Kwat Mo-li lalu mengajak kawan-kawannya untuk kabur. Yousuf tidak mengejar mereka, bahkan mencegah kawan-kawannya yang hendak mengejar,

“Biarlah, sudah terlalu banyak orang binasa dalam perang saudara yang terkutuk ini!”

Yousuf lalu mengumpulkan anak buahnya yang masih ada dan mereka lalu merawat semua orang baik kawan maupun lawan yang terluka dalam pertempuran itu, serta mengurus yang telah tewas.

Ang I Niocu, Nelayan Cengeng, Kwee An dan Ma Hoa tidak mau mengganggu Yousuf yang sedang berduka dan sedang sibuk mengurus semua itu, maka mereka lalu beristirahat dalam sebuah rumah di dalam kampung itu yang disediakan untuk mereka. Setelah mereka berempat ramai membicarakan peristiwa yang baru terjadi dan mengambil keputusan untuk membantu Yousuf selama para pengacau dari Turki itu masih mengganggunya, tiba-tiba Ma Hoa lalu berkata kepada Kwee An.

“An-ko, mengapa kita lupa untuk memberi selamat kepada Enci Im Giok?” gadis ini bicara sambil tersenyum gembira sehingga Ang I Niocu menjadi terheran.

Apalagi ketika ia melihat Kwee An memandangnya dengan tersenyum pula. Selagi ia hendak bertanya, tiba-tiba Nelayan Cengeng tertawa girang dan berkata,

“Tadi kita tidak ada kesempatan. Sekarang akulah orang pertama yang harus memberi selamat kepadanya!” Kemudian ia menghadapi Ang I Niocu lalu mengangkat kedua lengan memberi selamat sambil berkata keras-keras, “Ang I Niocu, kionghi... kionghi… (selamat, selamat)!”

Ucapan ini diturut oleh Kwee An dan Ma Hoa yang juga berdiri memberi selamat. Ang I Niocu memandang berganti-ganti kepada mereka bertiga lalu katanya gagap,

“Nanti dulu...! Memberi selamat sih mudah, akan tetapi terangkanlah dulu untuk apakah kalian memberi selamat...?”

“Ha, masih berpura-pura lagi! Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu!” Ma Hoa menggodanya sambil memegang lengan Ang I Niocu. “Enci Im Giok, kau memang tidak ingat kepada kawan. Mengapa urusan itu kau rahasiakan saja?”

“Adik Hoa, kalau kau tidak mau lekas menceritakan padaku apa maksud kalian ini, tentu akan kucubit bibirmu!” kata Ang I Niocu dengan gemas sambil memandang kepada Ma Hoa dengan mata dipelototkan.

“Ha-ha-ha!” Nelayan Cengeng tertawa bergelak. “Urusan pertunangan dan jodoh adalah hal biasa saja, mengapa harus dirahasiakan terhadap kawan-kawan?”

“Pertunangan...? Jodoh... ?” Ang I Niocu memandang heran.

“Enci Im Giok, janganlah kau berpura-pura lagi. Kami tanpa disengaja telah mengetahui rahasiamu!” kata Ma Hoa, sedangkan Kwee An hanya tersenyum saja karena ia merasa malu dan tidak berani menggoda Ang I Niocu.

“Nanti dulu, Adik Hoa, aku masih belum mengerti. Urusan pertunangan yang manakah kau maksudkan?”

“Aduh, pandainya bermain sandiwara!” Ma Hoa menggunakan telunjuknya yang runcing menuding ke arah muka Ang I Niocu. “Siapa lagi kalau bukan urusan pertunanganmu? Jangan kau menyangkal bahwa kau telah bertunangan, Enci Im Giok! Buktinya nampak di depan mata!”

“Apa buktinya?” Ma Hoa menuding ke arah pedang yang tergantung di pinggang Dara Baju Merah itu.

“Bukankah pedang yang kau pakai itu adalah Cian-hong-kiam pemberian tunanganmu?” Mulai berdebar dada Ang I Niocu.

“Darimana kau dapat mengetahui hal ini?” tanyanya.

“Dari siapa lagi kalau bukan dari Lie-taihiap!” Ang I Niocu bangkit berdiri dari tempat duduknya.

“Di... di mana dia...?” Ma Hoa bertepuk tangan.

“Nah, nah... sekarang kau mencari-carinya. Kau mencari dia... siapakah, Enci...?” Dengan gemas Ang I Niocu mengulurkan tangan hendak mencubit pipi Ma Hoa.

“Jangan main-main, Adik Hoa. Benar-benarkah kau bertemu dengan dia?”

“Eh... dia siapakah...? Jelaskan namanya, ah...” Ma Hoa menggoda lagi, akan tetapi Kwee An merasa kasihan kepada Ang I Niocu maka ia berkata,

“Kami memang telah bertemu dengan taihiap Lie Kong Sian.”

“Di mana? Bagaimana kalian bisa bertemu dengan dia?” tanya Ang I Niocu dengan heran.

“Sabar, Enci Im Giok. Sabar dan tenang. Kau duduklah baik-baik dan dengarlah ceritaku bagaimana kami bertemu dengan... calon suamimu yang gagah perkasa itu!”


►►►►Lanjut ke jilid 069►►►►

◄◄◄◄ Kembali ◄◄◄◄

Tidak ada komentar:

Posting Komentar