*

*

Ads

Jumat, 13 September 2019

Pendekar Remaja Jilid 152

Tiga orang muda itu sungguh gagah. Melihat mereka berjalan cepat mendaki gunung melompati jurang, sungguh membuat orang merasa kagum sekali. Hong Beng nampak gagah dengan tubuhnya yang tegap dan wajahnya tampan. Lie Siong berpakaian kuning, pedang naganya menempel di punggung, tubuhnya lebih kecil daripada Hong Beng, akan tetapi ia tampan sekali.

Adapun Goat Lan benar-benar nampak cantik jelita dan gagah. Sepasang bambu runcingnya tergantung di punggung seperti pedang. Sambil berlari cepat, mereka saling menuturkan riwayat dan pengalaman masing-masing dan makin lama Lie Siong makin suka kepada sepasang orang muda ini.

Ia diam-diam menyesal mengapa tidak semenjak kecil ia bersahabat dengan orang-orang ini, dan diam-diam ia merasa girang bahwa dahulu ibunya adalah sahabat baik dari orang-orang tua Goat Lan dan Hong Beng. Bahkan ada rasa bangga dalam hatinya karena mereka membicarakan ibunya dengan kekaguman, apalagi Goat Lan yang pernah ditolong oleh ibunya.

Beberapa hari kemudian mereka sudah sampai jauh di barat dan tiba di daerah bergunung yang gundul tiada pohon. Tiba-tiba mereka melihat bayangan seorang kakek melompat-lompat di atas batu dan dilihat dari jauh orang itu seperti seekor garuda putih saja, karena kedua ujung lengan bajunya yang lebar dan panjang itu berkibar di kanan kirinya seperti sayap dan ujung baju di belakang terbawa angin seperti ekornya.

“Dia adalah Thai Eng Tosu pembantu Ban Sai Cinjin!” tiba-tiba Lie Siong berseru dan tahu-tahu ia telah meninggalkan kedua orang kawannya dan mengejar ke atas dengan pedang Sin-liong-kiam di tangan.

Melihat gerakan dari Lie Siong yang demikian cepatnya ini, Goat Lan dan Hong Beng terkejut dan kagum sekali. Memang selama ini Lie Siong belum pernah memperlihatkan kepandaiannya.

“Tosu keparat, kemana kau hendak pergi?”

Lie Siong membentak sambil mengejar. Memang tosu itu adalah Thai Eng Tosu, orang tertua dari tiga ketua Pek-eng-kauw. Mendengar seruan ini, kakek ini berhenti dan menengok, lalu tersenyum ketika ia mengenal pemuda ini.

“Jadi kau sudah sembuh? Bagus, memang orang yang benar selalu dilindungi oleh Thian.”

“Jangan berpura-pura alim, siapa tidak tahu bahwa kau adalah kawan dari Ban Sai Cinjin yang jahat?” bentak Lie Siong sambil memutar pedangnya.

“Anak muda, memang sudah sepatutnya aku dimaki. Aku dan adik-adikku telah terbuiuk oleh Ban Sai Cinjin. Akan tetapi semenjak ia merampas puteri Pendekar Bodoh itu, aku mencuci tangan dan meninggalkan rombongannya. Hanya kedua adikku yang masih ikut.” Ia menarik napas panjang tanda bahwa hatinya kesal.

“Dimana rombongan itu membawa Lili?” Lie Siong bertanya dengan suara mengancam. “Katakanlah, baru aku akan mengampuni jiwamu.”

“Kau kira aku demikian busuk hati untuk mengkhianati mereka? Carilah sendiri!”

Lie Siong marah.
“Bagus, kalau begitu kau harus mampus!”

Thai Eng Tosu mengeluarkan suling bambunya yang kecil.
“Majulah, anak muda, mari kita main-main sebentar. Kalau betul-betul kau dapat mengalahkan sulingku ini, aku berjanji hendak memberi tahu dirimu kemana mereka itu membawa puteri Pendekar Bodoh!”

Lie Siong sudah merasa gemas sekali dan cepat menyerang dengan pedangnya. Tosu itu menangkis dan segera mereka bertempur dengan seru di atas tempat yang penuh batu karang itu.

Sementara itu, Goat Lan dan Hong Beng juga sudah mengejar sampai di tempat itu, akan tetapi melihat betapa pedang Lie Siong bergerak hebat sekali, Hong Beng berkata,

“Biarlah, kita menonton dari dekat saja dan jangan dibantu kalau Lie Siong tidak terdesak. Dia keras hati, kalau kita bantu, jangan-jangan dia akan merasa tak senang.”






“Seperti Lili…” kata Goat Lan. “Memang mereka cocok sekali seperti kita…” kata Hong Beng.

Kerling mata Goat Lan menyambar dan keduanya tersenyum bahagia. Gerakan ilmu silat tosu itu memang benar-benar lihai sekali dan makin lama ia bertempur, makin nampak nyata bahwa ilmu silatnya itu memiliki gerakan-gerakan seperti seekor burung garuda.

Akan tetapi kini ia menghadapi Lie Siong yang, selain berkepandaian tinggi juga sedang marah dan sakit hati sekali sehingga pedang naganya bergerak bagaikan kilat menyambar-nyambar cepatnya. Pada jurus ke lima puluh setelah Lie Siong mulai mendesak lawannya, tiba-tiba pemuda itu menyambarkan pedangnya membabat ke arah leher Thai Eng Tosu.

Pendeta ini membungkuk dan merendahkan tubuh sehingga sambaran pedang itu lewat di atas kepalanya. Akan tetapi ia tahu bahwa lidah naga yang merah itu tidak tinggal diam dan tahu-tahu sulingnya yang berada di tangan kanannya telah terlibat dan terbetot oleh lidah naga itu. Sekali Lie Siong membentak sambil menendang, tosu itu terpaksa mengelakkan diri dan otomatis sulingnya kena dirampas oleh Lie Siong!

“Sudahlah, sudahlah, memang yang benar selalu menang!” tosu itu berkata sambil menghela napas ketika melihat betapa sulingnya hancur dibanting oleh Lie Siong. “Baru tiga hari yang lalu mereka meninggalkan tempat ini menuju ke Thian-san. Lekaslah kau menyusul ke barat, anak muda yang gagah.”

Lie Siong segera memberi tanda kepada Goat Lan dan Hong Beng dan mereka bertiga berlari cepat sekali meninggalkan Thai Eng Tosu yang memandang dengan bengong. Ia menggeleng-geleng kepalanya dan berkata seorang diri,

“Keturunan Bu Pun Su memang lihai… lihai…”

Sepekan kemudian, tibalah mereka di kota Hami dan ketika mereka bertanya-tanya mereka mendengar berita tentang Ban Sai Cinjin dan rombongannya, bahkan mendengar cerita tentang Lili yang amat menarik hati sekali. Ternyata bahwa rombongan Ban Sai Cinjin yang terdiri dari Lili, Wi Kong Siansu, Bouw Hun Ti, Hailun Thai-lek Sam-kui dan kedua tosu dari Pek-eng-kauw, setelah tiba di kota Hami, lalu mereka berhenti di sebuah kuil dimana Ban Sai Cinjin sudah kenal baik dengan pengurusnya.

Lili masih tetap dalam keadaan tak berdaya dan biarpun gadis ini selalu berusaha untuk melepaskan diri, namun tidak ada kesempatan sama sekali baginya. Gadis ini tidak putus harapan dan ia pun menjaga kesehatannya dengan baik, tak pernah menolak untuk makan dan minum, akan tetapi sama sekali tidak mau bicara dengan mereka.

Ban Sai Cinjin mengalami kepusingan pertama ketika Thai Eng Tosu “mogok” di pegunungan itu dan tidak mau melanjutkan perjalanannya karena tidak setuju dengan ditawannya Lili. Kemudian ia menjadi makin pusing karena nampaknya Kim Eng Tosu dan juga Bouw Ki, orang termuda dari Hailun Thai-tek Sam-kui, tergila-gila kepada Lili dan beberapa kali mencoba mengganggunya.

Setelah tiba di kuil itu, Bouw Hun Ti lalu mengajukan usulnya kepada Ban Sai Cinjin, yaitu agar supaya Lili dikawinkan saja dengan upacara yang sah kepadanya! Ban Sai Cinjin melotot dan hendak memakinya, akan tetapi Bouw Hun Ti berkata dengan sungguh-sungguh,

“Suhu, ada tiga hal penting sekali yang mendorong teecu mengajukan usul ini. Pertama, biarpun teecu telah berusia empat puluh lebih akan tetapi teecu masih belum menikah, dan seorang isteri Nona Sie itu sudah cukup memenuhi syarat. Ke dua, kalau Nona Sie sudah menjadi isteri teecu, kiranya Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya akan suka menghabiskan perkara permusuhannya dengan kita, karena adanya ikatan keluarga dengan teecu dan pula Nona Sie kalau sudah menjadi isteri teecu tentu akan suka mencegah orang tuanya mengganggu kita. Ke tiga, kita akan terbebas pula dari gangguan-gangguan kawan-kawan sendiri yang tergila-gila kepada Nona Sie!”

Mendengar ini Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk girang. Memang betul sekali alasan-alasan muridnya ini, maka ia lalu minta pendapat dari semua orang. Seperti biasa, Wi Kong Siansu tidak pedulikan urusan yang dianggapnya remeh ini, adapun Hailun Thai-lek Sam-kui juga tidak berani mencegahnya. Demikian juga dua orang tosu dari Pek-eng-kauw.

“Kalau saja Nona Sie suka, tentu tidak ada orang yang berkeberatan,” kata Bouw Ki, orang ke tiga dari Hailun Thai-lek Sam-kui untuk menyembunyikan kecewanya.

Ban Sai Cinjin tersenyum. Untuk ini ia sudah pikirkan baik-baik.
“Tentu saja ia akan suka. Cu-wi lihat saja sendiri nanti.”

Dan pada keesokan harinya, kuil itu dihias meriah dan penduduk yang mendengar kabar bahwa di situ akan dilangsungkan pernikahan antara dua orang-orang pelancong, berduyun datang menonton. Dan benar saja, tidak seperti biasanya, Lili kini menurut saja ketika dirias seperti pengantin dan dipertemukan dengan Bouw Hun Ti di depan meja sembahyang!

Tentu saja Hailun Thai-lek Sam-kui dan yang lain-lain merasa heran sekali. Sebetulnya tak usah dibuat heran, kalau orang sudah mengenal betul siapa adanya Ban Sai Cinjin. Seperti juga pernah ia lakukan kepada Sin-kai Lo Siang kini ia pun mempergunakan pengaruh obat beracun yang dicampur di dalam makanan yang dimakan oleh Lili malam tadi.

Hanya bedanya, kalau Sin-kai Lo Sian dahulu menjadi gila dan terampas ingatannya, kini Lili hanya terampas ingatannya dan lumpuh kemauannya saja. Ia seakan-akan menjadi seorang tanpa semangat dan menurut saja apa yang orang perintahkan kepadanya!

Akan tetapi, selagi hwesio penjaga kelenteng itu hendak melakukan upacara sembahyang bagi sepasang pengantin, tiba-tiba dari antara penonton muncul seorang kate kecil yang bernyanyi sambil menenggak araknya, kemudian ia melangkah ke depan dan mendorong hwesio itu sehingga terjungkal!

“Enak saja orang mengawinkan anak orang tanpa bertanya kepada orang tuanya!” seru orang tua kate itu sambil menggandeng tangan Lili. “Lebih baik dikawinkan dengan aku Si Tua Bangka!”

Bouw Hun Ti marah sekali akan tetapi ketika ia memandang seperti juga Ban Sai Cinjin dan yang lain-lain ia menjadi kaget sekali karena kakek kate ini bukan lain adalah Im-yang Giok-cu!

Kedua tokoh Pek-eng-kauw yang tidak kenal siapa adanya kakek kate ini, menjadi marah melihat kekurang ajarannya, maka cepat sekali Sin Eng Tosu dan Kim Eng Tosu menyerang dengan ujung lengan baju mereka.

“Enyahlah kau orang kate!”

Akan tetapi bukan main hebatnya akibat dari hinaan dan serangan ini. Orang tidak tahu bagaimana kakek itu bergerak tahu-tahu kedua orang tosu berpakaian putih itu jatuh tersungkur ke kolong meja dalam keadaan pingsan!

Bouw Hun Ti mencabut goloknya dan sebelum Ban Sai Cinjin dapat mencegah, Bouw Hun Ti telah melakukan serangan kilat yang hebat sekali ke arah kepala orang kate yang tertawa-tawa itu!

Im-yang Giok-cu mendengar sambaran angin dari belakang tanpa menengok lagi lalu mengangkat guci araknya yang kehijauan itu.

“Traaaaang!” golok yang dipegang oleh Bouw Hun Ti terpental dari pegangan saking kerasnya benturan dua macam benda ini.

Dan sebelum Bouw Hun Ti sempat mengelak, tangan Im-yang Giok-cu telah “masuk” ke dalam iganya. Bouw Hun Ti mengeluh panjang lalu tubuhnya terkulai ke atas lantai! Orang-orang yang menonton pengantin menjadi panik dan berserabutan melarikan diri sehingga tempat itu sebentar saja menjadi sunyi, hanya ada Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Hailun Thai-lek Sam-kui, Im-yang Giok-cu, dan Lili saja yang masih berdiri, karena dua orang tosu Pek-eng-kauw dan Bouw Hun Ti masih belum dapat bangun.

Adapun hwesio yang tadi melakukan upacara sembahyang telah berlari sembunyi entah kemana. Hailun Thai-lek Sam-kui yang doyan berkelahi ketika melihat orang kate yang datang-datang mengamuk, segera mencabut senjata masing-masing, akan tetapi Ban Sai Cinjin segera memberi tanda dengan tangannya, mencegah kawan-kawannya itu turun tangan.

Mata Im-yang Giok-cu yang lihai melihat gerakan mereka ini, maka setelah tertawa bergelak ia lalu berkata menantang,

“Ha-ha-ha, Sam-kui (Tiga Setan), mengapa tidak jadi mencabut senjata? Kalau kalian hendak meramaikan pesta perkawinanku, marilah maju!”

Ban Sai Cinjin buru-buru maju dan menjura di depan Im-yang Giok-cu.
“Totiang, belum lama ini kita saling bertemu dan tidak ada urusan sesuatu diantara kita. Mengapa Totiang hari ini menggagalkan pernikahan yang sah dan baik-baik?”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar