*

*

Ads

Sabtu, 24 Agustus 2019

Pendekar Remaja Jilid 116

“Ha-ha-ha! Pengemis ular, lain kali bukan pantatmu yang kutendang melainkan kepalamu!”

Setelah Coa-ong Lojin pergi, Lie Siong memandang semua orang itu dengan heran. Ia menoleh kepada Lo Sian dengan mata mengandung pertanyaan, sehingga Sin-kai Lo Sian tersenyum dan berkata,

“Lie Siong, kau berhadapan dengan orang-orang sendiri. Sungguh baik sekali nasibmu sehingga hari ini kau dapat bertemu dan ditolong oleh mereka ini. Ketahuilah bahwa dia ini adalah Pendekar Bodoh dan isterinya, sedangkan orang gagah itu adalah Kwee An Tai-hiap dari Tiang-an!”

Memang sebelumnya Lo Sian telah mendapat keterangan dari Lilani yang memperkenalkan tiga orang besar itu.

Tentu saja Lie Siong menjadi terkejut sekali, akan tetapi pemuda ini dapat menekan perasaannya, dan tidak memperlihatkan perubahan pada wajahnya yang tampan.

“Siong-ji (Anak Siong), ayah dan ibumu adalah seperti kakak kami sendiri,” kata Lin Lin dengan terharu sambil menatap wajah yang tampan itu.

Lie Siong memandang kepada Lin Lin. Alangkah cantiknya nyonya ini, hampir sama dengan Lili, yang tak pernah lenyap bayangannya dari depan matanya itu. Alangkah jauh bedanya dengan ibunya yang nampak tua. Tiba-tiba ia menjadi terharu sekali ketika teringat akan ibunya yang telah ditinggalkannya.

Ibunya, mempunyai sahabat-sahabat baik seperti ini, mengapa ibunya hidup menderita? Mengapa ayahnya sampai mati tanpa ada pembelaan dari mereka ini? Mereka ini adalah pendekar-pendekar besar seperti yang telah seringkali disebut-sebut oleh ibunya, akan tetapi mengapa ibunya dan dia sampai hidup di tempat asing?

Hatinya menjadi dingin sekali. Keangkuhan hati pemuda ini tersinggung karena dalam keadaan tertimpa malapetaka, justru orang-orang ini yang menolongnya. Alangkah bodoh, lemah, dan tak berdaya ia nampak dalam pandangan mata ketiga orang ini! Padahal ia ingin sekali memperlihatkan kepada Pendekar Bodoh dan isterinya, bahwa keturunan Ang I Niocu tidak kalah oleh mereka!

Akan tetapi, oleh karena telah ditolong oleh mereka, terpaksa Lie Siong lalu maju menjura memberi hormat dan berkata,

“Sungguh siauwte harus menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Sam-wi yang gagah perkasa. Semoga Thian akan memberi kesempatan kepada siauwte untuk kelak membalas budi ini. Maafkanlah bahwa siauwte harus melanjutkan perjalanan mencari ayah, karena selain siauwte siapa lagi yang akan mencarinya?” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban, Lie Siong lalu menoleh kepada Lilani, “Mari kita pergi!”

Gadis itu memandang dengan terheran-heran, akan tetapi bagaimana ia dapat membantah ajakan pemuda yang menjadi pujaan hatinya? Ia hanya memandang kepada Lin Lin dengan sedih, kemudian sambil menahan isak, ia lalu melompat dan menyusul Lie Siong yang sudah lari terlebih dahulu.

“Eh, eh, Lie Siong tunggu dulu! Aku akan menunjukkan tempatnya kepadamu!”
Lo Sian berseru keras dan segera mengejar pula.

Adapun Kwee An, Lin Lin, dan Cin Hai menjadi melengak dan tak dapat mengeluarkan kata-kata saking herannya. Kemudian mereka saling pandang dengan perasaan aneh. Bagaimanakah pemuda itu dapat bersikap sedemikian dinginnya?

“Dia seperti orang marah,” kata Cin Hai.

“Tidak, seperti orang malu,” kata Lin Lin.

“Menurut pandanganku, seperti orang yang merasa penasaran. Sungguh aneh!” kata Kwee An.

Selagi ketiga orang itu terheran-heran, suasana yang tidak enak itu dipecahkan oteh suara Kam Wi yang keras,

“Ah, sungguh beruntung sekali hari ini aku dapat bertemu, bahkan mendapat pertolongan dari tiga orang pendekar besar! Ha-ha-ha, Pendekar Bodoh, memang agaknya Thian telah menyetujui usulku. Aku memang hendak bertemu dengan kau, Sie Tai-hiap!”






Cin Hai membalas penghormatan tokoh Kun-lun-pai itu.
“Kam-enghiong, harap kau tidak berlaku sungkan. Bantu dan memberantas kejahatan diantara kalangan kita sudah merupakan kewajiban yang tak perlu dikotori oleh sebutan pertolongan ataupun budi. Kehormatan apakah yang hendak kau berikan kepada kami maka kau hendak mencari kami dan usul apakah yang kau maksudkan itu?”

“Harap kau dan isterimu tidak menganggap aku berlaku kurang ajar apabila kesempatan ini kukemukakan maksud hatiku. Ketahuilah, aku mempunyai seorang anak keponakan yang bernama Kam Liong, sekarang menjabat pangkat sebagai panglima muda di kerajaan. Tentu kalian masih ingat kepada Kam Hong Sin saudara tuaku, nah, Kam- Liong adalah putera satu-satunya.”

“Kami sudah pernah bertemu dengan Kam Liong itu, Kam-enghiong. Dia adalah seorang pemuda yang gagah dan baik.”

Berseri wajah Kam Wi mendengar ucapan Lin Lin ini.
“Bagus sekali, agaknya memang Thian telah menjadi penunjuk jalan! Toanio, seperti juga kau dan suamimu, aku pun telah melihat puterimu yang bernama Sie Hong Li! Juga suhengku, Suhu dari Kam Liong yang kau kenal sebagai tokoh pertama dari Kun-lun-pai, yaitu Tiong Kun Tojin, amat suka melihat puterimu yang cantik dan gagah itu! Oleh karena itu, kami sudah sependapat, yaitu aku, Kam Liong, dan suhunya, untuk mengajukan pinangan kepada Sie Tai-hiap untuk menjodohkan Kam Liong dengan Nona Sie Hong Lie!”

Mendengar pinangan yang tiba-tiba dan terus terang di tempat yang tidak semestinya ini, kedua orang tua itu terkejut dan tersipu-sipu. Wajah Lin Lin menjadi merah karena jengah. Belum pernah terpikir olehnya akan menerima lamaran orang dan sungguhpun di dalam hatinya ia amat suka kepada Kam Liong, akan tetapi mulutnya tak dapat berkata sesuatu. Ia hanya memandang kepada suaminya yang kebetulan juga memandang kepadanya dengan mata bodoh.

Sampai lama suami isteri ini hanya saling pandang, tak dapat menjawab, bahkan tidak berani memandang kepada Sin-houw-enghiong Kam Wi yang masih menanti jawaban mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa geli, dan ternyata yang tertawa itu adalah Kwee An.
“Ha-ha-ha, bagaimanakah kalian ini? Anak perempuan dilamar orang, kok hanya saling pandang seperti pemuda-pemudi yang main mata?”

Kwee An biasanya pendiam dan tidak banyak berkelakar, akan tetapi sekali ini ia berkumpul dengan Lin Lin yang suka menggodanya, ia selalu mencari kesempatan untuk balas menggoda adiknya ini! Tentu saja Lin Lin menjadi makin bingung dan akhirnya Cin Hai yang dapat mengeluarkan kata-kata sambil menjura kepada Kam Wi,

“Kami menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas kehormatan yang Kam-enghiong berikan kepada kami. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa anak kami Hong Li yang bodoh dan buruk rupa itu mendapat perhatian dari keponakanmu, dari Tiong Kun Tojin dan dari kau sendiri. Sesungguhnya puteri kami yang bodoh itu terlalu rendah, apabila dibandingkan dengan Kam-ciangkun yang biarpun masih muda sudah menduduki pangkat sedemikian tingginya, selain lihai juga menjadi murid tokoh Kun-lun-pai yang terkenal.”

“Bagus, bagus! Jadi kalian setuju? Kalian menerima pinanganku?” Kam Wi yang jujur dan kasar itu segera memutuskannya.

“Bukan begitu, Kam-enghiong. Harap jangan tergesa-gesa, tak dapat kami memutuskan begitu saja…” kata Cin Hai.

“Hemm, jadi Sie Tai-hiap menolak?” kembali Kam Wi memutuskan omongan Pendekar Bodoh.

Cin Hai tersenyum, ia maklum bahwa Kam Wi memiliki watak yang amat kasar, polos, dan tidak sabaran.

“Tenanglah, Kam-enghiong. Urusan perjodohan bukanlah urusan jual beli barang murahan saja. Hal ini harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Kami tidak dapat memutuskannya sekarang, berilah waktu kepada kami untuk memikirkannya, mempertimbangkannya dan terlebih dulu kami harus bertemu dan bicara dengan Lili puteri kami itu.”

“Pendekar Bodoh, kita adalah golongan orang-orang yang tak pandai bicara, karena lebih mudah bicara dengan kepalan tangan daripada dengan bibir dan lidah. Kalau kiranya kalian berdua menolak pinangan ini, tak usah banyak sungkan, nyatakan saja, sekarang. Aku takkan merasa penasaran atau marah, karena sudah semestinya sesuatu pinangan akan mengalami dua hal, diterima atau tidak.”

“Bagaimana kami dapat menolak pinanganmu? Kami berlaku sombong dan kurang ajar kalau menolaknya. Sesungguhnya kami tidak melihat sesuatu yang mengecewakan pada diri Kam Liong, akan tetapi…”

“Ha-ha-ha-ha, jadi kau suka? Bagus, aku yang menanggung bahwa Kam Liong benar-benar akan merupakan seorang suami yang baik dan bijaksana, seorang anak mantu yang berbakti! Terima kasih atas penerimaanmu, Pendekar Bodoh, kita akan mencari hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.”

“Nanti dulu, Kam-enghiong. Harap jangan tergesa-gesa. Kalau tadi kunyatatakan bahwa aku tidak menolak, itu bukan berarti bahwa aku menerimanya. Seperti telah kukatakan tadi, berilah waktu. Kami sedang menghadapi masa sukar, tugas kewajiban menghadang di depan mata, siapa mempunyai kesempatan untuk bicara tentang perjodohan? Tunggulah sampai musuh terusir semua, sampai kami dapat bertemu dengan putera dan puteri kami dalam keadaan selamat, barulah kita akan bicara tentang perjodohan ini!”

“Baik, baik. Betapapun juga aku yakin bahwa kau tidak menolak dan ucapan itu sudah setengah menerima. Baik, kita menanti sampai selesai tugas kami membela tanah air. Kalau keadaan sudah aman, aku akan membawa Kam Liong datang ke Shaning menentukan hari baik! Nah, selamat tinggal, dan terima kasih atas pertolongan tadi!”

Setelah berkata demikian dengan wajah berseri gembira Kam Wi lalu meninggalkan rumah itu.

Pendekar Bodoh menarik napas panjang.
“Alangkah kasar dan jujurnya orang itu! Urusan perjodohan dianggap mudah begitu saja. Itulah kalau orang tidak mempunyai anak sendiri, tidak merasa betapa sukarnya menetapkan jodoh bagi anak perempuan.”

“Sesungguhnya orang itu gegabah sekali,” kata Kwee An, “belum juga diberi keputusan, dia sudah menetapkan dengan yakin bahwa lamarannya diterima. Orang seperti itu kelak akan dapat menimbulkan keributan karena kebodohan, kejujuran, dan kekasarannya.”

“Terus terang saja, aku sendiri sudah setuju kalau Lili mendapatkan jodoh seperti Kam Liong,” kata Lin Lin. “Kita sudah menyaksikan sendiri betapa pemuda itu sopan santun, lemah lembut, dan juga sudah menyatakan jasanya dengan membantu Hong Beng dan juga kita. Bukankah perbuatannya itu saja sudah memperlihatkan bahwa ia suka kepada Lili dan bahwa ia tidak hendak main-main dalam urusan perjodohan ini?”

“Betapapun juga, keputusannya harus kau serahkan kepada Lili sendiri, karena urusan ini menyangkut kebahagiaan seumur hidupnya. Aku takkan merasa puas apabila dia sendiri tidak menyetujui perjodohan ini. Dia yang akan menikah, dia yang akan menanggung segala akibatnya, dia yang akan sengsara atau senang kalau sudah terjadi perjodohan itu. Maka aku menyesal sekali mengapa Sin-houw-enghiong demikian pasti dan tergesa-gesa menganggap kita sudah menerima pinangannya.”

Demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan ke utara sambil tiada hentinya membicarakan urusan pinangan yang dilakukan oleh Kam Wi dengan cara yang kasar itu.

**** 116 ****





Tidak ada komentar:

Posting Komentar