*

*

Ads

Minggu, 18 Agustus 2019

Pendekar Remaja Jilid 110

Mari kita sekarang mengikuti perjalanan Lie Siong putera Ang I Niocu pemuda remaja yang gagah perkasa dan berwatak sukar dan aneh itu. Sebagaimana telah diketahui, Lie Siong berhasil menotok Lo Sian hingga tak berdaya dan membawa Pengemis Sakti itu.

Ia menculik Lo Sian bukan karena ia benci kepada pengemis ini, akan tetapi sesungguhnya karena ia ingin sekali mengetahui keadaan ayahnya, yaitu pendekar besar Lie Kong Sian.

Setelah membawa Lo Sian jauh dari Shaning malam hari itu, Lie Siong lalu menurunkan Lo Sian dari pondongannya dan meletakkannya di atas rumput. Ia tidak membebaskan Lo Sian dari totokan, sebaliknya bahkan lalu merebahkan diri di bawah pohon dan tidur. Pemuda ini telah melakukan perjalanan jauh dan merasa lelah sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia telah bangun dan ketika melihat ke arah Lo Sian, ia melihat pengemis tua itu masih berbaring tak dapat bergerak. Timbul rasa kasihan dalam hatinya maka ia lalu menghampiri Lo Sian dan melepaskan totokannya. Beberapa kali urutan dan tepukan pada tubuh pengemis itu, terbebaslah Lo Sian.

Akan tetapi oleh karena selama setengah malam Lo Sian berada dalam keadaan tertotok, dia masih merasa lemas dan hanya dapat bangun duduk dengan payah sekali. Pengemis ini segera meramkan mata bersamadhi untuk menyalurkan tenaga dalamnya dan mengatur napasnya agar jalan darahnya bisa normal kembali.

Lie Siong lalu menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan pengemis itu dan membantunya menyalurkan hawa dan tenaga dalamnya sehingga sebentar saja Lo Sian merasa tubuhnya hangat dan kuat. Diam-diam ia merasa heran melihat pemuda ini. Baru saja menotok, menculik dan menyiksanya dengan membiarkannya dalam keadaan tertotok sampai setengah malam, akan tetapi sekarang bahkan membantunya melancarkan jalan darahnya sehingga cepat menjadi baik kembali. Sungguh pemuda yang aneh sekali!

Ia membuka matanya dan menggerakkan tangannya. Lie Siong lalu menjauhkan diri dan duduk menghadapi pengemis itu.

“Anak muda, apa maksudmu menculik dan membawaku ke tempat ini?” kata-kata pertama yang keluar dari mulut Lo Sian ini terdengar tenang sekali.

Pandangan mata pengemis ini yang begitu tenang dan mengandung tenaga batin, membuat Lie Siong tiba-tiba merasa malu kepada diri sendiri dan mukanya menjadi kemerah-merahan. Pandang mata ini mengingatkannya kepada ayahnya. Seperti itulah pandang mata ayahnya, kalau ia tak salah ingat.

“Maaf, Lopek. Sesungguhnya aku tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan kau, dan sungguh tidak ada alasan sama sekali bagiku untuk menyusahkan kau orang tua. Akan tetapi ucapanmu yang kudengar di rumah Thian Kek Hwesio di kuil Siauw-lim-si di Ki-ciu dahulu itu selalu tak pernah dapat terlupakan olehku. Ketahuilah, terus terang saja aku adalah putera tunggal dari Lie Kong Sian, Ang I Niocu adalah ibuku, dan namaku Lie Siong. Cukup sekian keterangan mengenai diriku. Sekarang yang terpenting, apakah maksud kata-katamu dahulu itu yang menyatakan bahwa ayahku telah meninggal dunia? Ketahuilah bahwa, aku sedang mencari ayahku dan di Pulau Pek-leto aku tidak dapat menemukannya. Karena kau mengenal ayahku, maka aku ingin agar supaya kau menceritakan apa maksud kata-katamu tentang kematian ayah itu.”

Setelah berkata demikian, pemuda itu memandang tajam. Lo Sian merasa ngeri melihat mata yang berbentuk bagus itu mengeluarkan sinar yang amat tajamnya, seakan-akan hendak menembus dadanya. Ia tidak tahu bahwa seperti itulah mata Ang I Niocu, Pendekar Wanita Baju Merah yang dahulu telah menggemparkan dunia persilatan.

“Sayang sekali, orang muda. Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu, karena sesungguhnya aku sendiri pun tidak tahu apa yang telah terjadi dengan ayahmu itu.”

“Lopek, harap kau orang tua jangan main-main! Kau berkata bahwa Ayah mati, akan tetapi sekarang kau menyatakan tidak tahu apa-apa. Apa artinya ini?”

“Aku bicara sebenarnya, anak muda, dan sama sekali aku tidak mempermainkanmu atau juga membohong kepadamu. Aku telah kehilangan ingatan sama sekali, aku tidak tahu apa yang telah terjadi dahulu. Ingatanku hanya terbatas semenjak di tempat Thian Kek Hwesio sampai sekarang. Sebelum itu, yang teringat olehku hanya bahwa ayahmu telah meninggal dunia.”

“Dimana matinya dan bagaimana? Dimana makamnya.” Lie Kong mendesak.

Lo Sian menarik napas panjang.
“Percayalah, anak yang baik. Hal satu-satunya yang akan kukerjakan pertama-tama kalau ingatanku dapat kembali adalah mengingat tentang ayahmu itu. Akan tetapi apa daya, pikiranku hampir menjadi rusak dan harapanku untuk hidup hampir musnah karena aku telah berusaha mengingat-ingat tanpa hasil sedikit pun juga. Kau tenanglah dan coba dengar penuturanku.”






Lo Sian lalu menceritakan semua pengalamannya, yaitu semenjak tahu-tahu ia merasa berada di tempat tinggal Thian Kek Hwesio yang menyembuhkannya dan menceritakan pula semua pengalamannya yang didengarnya kembali dari Lili, yaitu pada waktu ia menolong Lili dahulu.

“AH, sampai sekarang aku tidak bisa mengingat hal yang terjadi sebelum aku disembuhkan oleh Thian Kek Hwesio. Hanya dua hal yang masih terbayang di depan mataku, yaitu ayahmu yang telah meninggal dan ucapan pemakan jantung yang membuatku tak dapat tidur.”

Lie Siong mengerutkan alisnya. Dapatkah ia mempercaya omongan seorang yang baru saja sembuh dari sakit gila?

“Betapapun juga, anak muda. Aku mempunyai perasaan bahwa ayahmu itu pasti mati dalam keadaan yang mengerikan, dan aku merasa yakin bahwa kalau aku melihat kuburannya, tentu akan mengenal tempat itu.”

Timbul kembali harapan Lie Siong. Ia berpikir sejenak, kemudian berkata,
“Kalau begitu, Lopek. Terpaksa kau harus ikut dengan aku mencari makam ayah, kalau benar-benar ia telah meninggal dunia seperti yang kau katakan tadi.”

“Boleh, boleh! Hanya saja… bagaimana dengan Lili?”

“Lili siapa?”

“Sie Hong Li, nona yang kutinggalkan seorang diri. Dia anak baik, seperti anak atau keponakanku sendiri. Dia tentu akan gelisah sekali.”

“Biar saja, dia bukan anak kecil dan kepandaiannya cukup tinggi untuk menjaga diri sendiri,” jawab Lie Siong tegas.

“Kemana kita akan pergi?”

“Sudah kukatakan tadi, mencari makam ayah.”

“Setelah itu?”

“Aku akan mengantarkan seorang gadis ke utara untuk mencarikan suku bangsanya.”

Lo Sian teringat akan cerita Lili.
“Ah, gadis yang dulu kau ganggu itu?”

Merah muka Lie Siong.
“Jangan bicara sembarangan, Lopek! Gadis itu adalah Lilani, seorang gadis Haimi yang kutolong dari gangguan orang jahat. Sekarang ia menderita penyakit pikiran dan kutinggalkan di rumah Thian Kek Hwesio. Kita sekarang menuju kesana untuk melihat keadaannya.”

Lo Sian tertegun mendengar kekerasan hati pemuda ini. Lili boleh disebut seorang gadis yang berhati keras, akan tetapi pemuda ini lebih-lebih lagi!

“Baiklah, aku menurut saja, karena aku merasa kagum dan menghormat ayahmu, seorang pendekar besar. Biarpun aku tidak ingat lagi, namun aku merasa yakin bahwa aku dahulu tentu pernah ditolong oleh ayahmu. Maka sudah menjadi kewajibanku kalau sekarang aku membantumu mencari makamnya. Jangan sekali-kali kau menganggap kepergianku denganmu ini sebagai tanda bahwa aku takut kepadamu, anak muda. Ah, bukan sekali-kali. Biarpun kepandaianmu boleh lebih tinggi dariku, namun aku Sin-kai Lo Sian bukanlah seorang yang takut mati. Aku menuruti kehendakmu karena aku pun ingin sekali mendapatkan makam pendekar besar Lie Kong Sian ayahmu.”

Lie Siong mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia senang melihat sikap pengemis ini yang dianggapnya cukup gagah dan patut dijadikan kawan seperjalanan. Berangkatlah kedua orang ini menuju ke Ki-ciu untuk melihat keadaan Lilani gadis Haimi yang bernasib malang itu. Tentu saja sebagai seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, Lie Siong tidak menceritakan hubungannya dengan Lilani itu.

Dengan hati girang Lie Siong mendapatkan Lilani telah sembuh dari sakitnya, hanya saja gadis ini sekarang berubah menjadi pendiam sekali. Ia telah mendapat banyak nasihat dan petuah dari Thian Kek Hwesio karena gadis ini setelah diobati, menganggap Thian Kek Hwesio sebagai satu-satunya orang yang dapat diajak bertukar pikiran. Pendeta tua yang banyak sekali pengalamannya ini dan yang paham akan bahasa Haimi, mendengarkan pengakuan dan penuturan Lilani dengan wajah tenang dan sabar.

“Itulah salahnya kalau orang-orang muda kurang memperhatikan tentang kesopanan yang sudah jauh lebih tua daripada kita umurnya. Amat tidak sempurna kalau seorang gadis seperti engkau melakukan perjalanan berdua dengan seorang pemuda seperti Lie Siong yang tampan dan gagah. Mudah sekali bagi iblis untuk mengganggu kalian.”

Hwesio itu menarik napas panjang.
“Akan tetapi tak perlu hal itu dibicarakan lagi. Yang terpenting sekarang, dengarlah nasihatku. Kalau kau memang benar-benar telah merasa yakin bahwa cintamu tidak terbalas oleh pemuda itu, jalan satu-satunya bagimu adalah kembali ke bangsamu sendiri! Kebiasaanmu dan kebiasaan Lie Siong sebagai seorang gadis Haimi dan seorang pemuda Han tidak cocok sekali. Kau biasa hidup bebas, sedangkan orang Han selalu terikat oleh peraturan-peraturan kesusilaan dan kesopanan sehingga kalau ikatan itu terlepas sedikit saja, akan membahayakan. Memang baik sekali kalau dia mau menikah denganmu, akan tetapi kalau tidak demikian, jalan satu-satunya adalah seperti yang kukatakan tadi. Nah, terserah kepadamu.”

Lilani mendengarkan nasihat ini sambil meramkan mata untuk menahan air mata yang mulai mengucur. Alangkah besamya cinta hatinya terhadap Lie Siong. Akan tetapi ia dapat merasakan bahwa pemuda itu tidak mencintainya. Sebelum mendengar nasihat Thian Kek Hwesio, memang ia sudah mengambil keputusan untuk kembali kepada bangsanya, dan ia sekarang makin tetap lagi hatinya.

Demikianlah, ketika Lie Siong datang, Thian Kek Hwesio memanggil pemuda itu ke dalam kamarnya dan berkata,

“Anak muda she Lie. Pinceng sudah mendengar semua penuturan Lilani tentang hubungan kalian. Katakan saja terus terang kepada pinceng, apakah ada niat dalam hatimu untuk mengawininya?”

Dengan muka merah sekali Lie Siong menundukkan mukanya dan kemudian menggeleng kepalanya. Akan tetapi segera ia menyusul pernyataan dengan gelengan kepala ini dan berkata,

“Betapapun juga, Losuhu, aku takkan membuatnya sengsara dan meninggalkannya begitu saja. Aku akan menjaganya, kalau perlu mengambilnya sebagai adik angkat, atau… bagaimana saja menurut sekehendak hatinya asalkan… asalkan jangan menjadi suaminya!”

“Pinceng maklum akan isi hatimu. Kau sudah bersalah, akan tetapi kalau kau sudah mengakui kesalahanmu dan kini mau bertanggung jawab memperhatikan nasib gadis itu, kau boleh disebut orang baik.”

“Aku hendak mencari suku bangsa Haimi dan membawa Lilani kembali kepada bangsanya. Tentu saja aku tidak akan memaksanya, hanya inilah kehendakku.”

Thian Kek Hwesio mengangguk-angguk.
“Baik, itulah jalan yang terbaik. Pinceng merasa girang sekali mendengar kau mempunyai ketetapan hati seperti itu. Dengar, anak muda. Kalau kau bukan putera pendekar besar Lie Kong Sian dan Ang I Niocu yang keduanya sudah memupuk perbuatan baik dan kebajikan, kiranya pinceng takkan bersusah payah memberi nasehat dan mencampuri urusanmu. Akan tetapi, sebagai seorang laki-laki yang gagah, kau harus berani bertanggung jawab atas segala perbuatanmu. Di dalam kegelapan pikiran kau telah melakukan pelanggaran bersama Lilani dan sungguhpun kau tidak dapat mengawininya, akan tetapi kau harus penuh tanggung jawab mengatur kehidupannya dan sekali-kali jangan menyia-nyiakan sehingga gadis yang malang itu hidup dalam kesengsaraan. Kalau kau meninggalkannya begitu saja tanpa persetujuan hatinya, kau akan menjadi seorang siauw-jin (orang rendah). Mengertikah kau?”

Kalau sekiranya yang bicara itu bukan Thian Kek Hwesio yang memiliki daya pengaruh luar biasa memancar keluar dari wajahnya yang tenang, sabar dan berwibawa itu, pasti Lie Siong akan menjadi marah sekali. Akan tetapi kali ini pemuda itu hanya menundukkan kepala dan menyatakan kesanggupannya.

Ketika Lilani bertemu dengan Lie Siong, gadis itu memandang dengan mata sayu, lalu bertanya perlahan,

“Tai-hiap, bilakah kita akan mencari suku bangsaku?”

“Sekarang juga, Lilani. Hari ini juga!” jawab Lie Siong dengan hati diliputi keharuan besar.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar